Kuasai Tiga Jenis Tes CAT untuk Dapat Lulus CPNS

Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil saat ini telah memasuki tahap Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Tes ini dilakukan dengan metode CAT atau tes berbasis komputer di 269 titik lokasi tes di Indonesia.


Peserta yang menjalani seleksi kompetensi dasar dalam tes CPNS harus menjalani tiga subtes. Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 36 Tahun 2018 tentang Kriteria Penetapan Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil dan Pelaksanaan Seleksi CPNS 2018.

Adapun materi jenis soal SKD meliputi Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) dengan nilai ambang batas yang berbeda-beda menurut jenis formasinya.

Tes dilaksanakan mulai 26 Oktober hingga 7 November 2018. Peserta yang berhak mengikuti tes ini adalah pendaftar yang lulus seleksi administrasi.

Tes Wawasan Kebangsaan

Ujian ini menilai penguasaan pengetahuan dan kemampuan mengimplementasikan nasionalisme, integritas, bela negara, Bahasa Indonesia, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. CPNS yang dicari juga harus mampu membuktikan pengetahuannya dalam sejarah perjuangan bangsa, peranan Indonesia dalam tatanan regional dan global.

Tes Intelegensi Umum

Peserta seleksi diharuskan mengikuti tes kemampuan verbal. Kemampuan ini diukur dengan seberapa baik peserta bisa menyampaikan informasi secara lisan maupun tulisan. Bentuk tesnya berupa pemahaman bacaan yang di dalamnya berisi fakta dan opini, ringkasan dan kesimpulan dalam paragraf.

Selain itu, pelamar juga diuji kemampuan melakukan operasi perhitungan angka dan melihat hubungan di antara angka-angka itu. Jenis soal untuk subtes ini biasanya berupa deretan angka dan huruf.

Peserta juga akan diuji kemampuan figuralnya atau kecepatan mentalnya dalam menganalisis gambar, simbol dan diagram. Ujiannya berupa matematika aljabar dan geometri. Kemampuan berpikir logis atau berdasarkan nalar secara runtut dan sistematis juga diukur. Bentuk soal untuk tes ini berupa meteri dasar logika matematika dan penarikan kesimpulan penalaran logis.

Calon abdi negara juga wajib membuktikan diri memiliki kemampuan berpikir analitis, mampu mengurai permasalahan secara sistematis. Mereka akan disuguhi bentuk-bentuk soal urutan kualitas, kuantitas, kombinatorik dan implikasi.

Tes Karakteristik Pribadi 

Ujian ini bertujuan menggali potensi pegawai berdasarkan karakter yang ada dalam dirinya. Negara mencari pegawai yang berkepribadian tangguh dan baik.

Menurut PermenpanRB, tes ini sangat krusial untuk menentukan kelulusan. Apabila dua orang memiliki nilai Tes Kompetensi Dasar yang sama, maka nilai TKP akan menentukan peringkatnya. Tak ada benar salah dalam tes ini, namun setiap jawaban memiliki skor 1-5. Jawaban yang paling diinginkan oleh penyelenggara mendapatkan skor paling besar.

Potensi dalam peserta tes CPNS dinilai dari segi integritas diri, semangat untuk berprestasi, kreativitas dan inovasi, kemauan untuk melayani, berorientasi pada orang lain, kemampuan beradaptasi dan kemampuan mengendallikan diri.

Di poin integritas diri misalnya, CPNS yang dicari adalah mereka yang memiliki moral tinggi. Peserta yang jujur dianggap lebih penting dibanding berani.

Peserta juga dinilai kemampuannya dalam bekerja mandiri dan menuntaskannya. Kemudian, mereka juga dinilai kemauan dan kemampuan belajarnya secara berkelanjutan, kemampuan bekerja sama dalam kelompok dan kemampuan menggerakkan dan mengkoordinir orang lain.

Tiga jenis soal SKD itu merupakan tema materi pertanyaan yang harus dijawab peserta CPNS 2018. (*)

Aksi Bela Tauhid: Banser Bertaubatlah


Seribuan orang yang tergabung dalam Aksi Bela Tauhid meminta agar anggota Banser yang membakar bendera dengan kalimat Tauhid untuk segera bertaubat. Aksi ini digelar di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, pada Kamis, 25 Oktober 2018.


Ribuan peserta berasal dari berbagai organisasi ini membawa poster besar, bendera, ikat kepala, dan topi bertuliskan kalimat suci. Mereka mengecam keras aksi Banser membakar bendera Tauhid yang terjadi di Garut, pada Senin 22 Oktober 2018 lalu.

"Kita minta saudaraku Banser untuk segera bertaubat. Bahwa mereka bukan hanya membakar bendera yang berlafazkan Tauhid, tetapi memancing amarah umat Islam," kata koordinator aksi, Wahyu Ikhsan.

Mereka juga mengutuk aksi Banser dengan sengaja membakar dan menginjak-injak bendera tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan tindakan zalim yang tidak dibenarkan oleh Islam. (*Viva News)

Bendera Tauhid Ini Telah Ada di Indonesia 10 Tahun Sebelum Proklamasi

Beredar sebuah foto di media sosial yang memperlihatkan sejumlah orang dengan pakaian rapi berdiri di sebuah bangunan dan beberapa orang membentangkan bendera hitam dengan tulisan Tauhid berwarna putih.

Foto tersebut diambil pada tahun 1935 masehi atau 10 tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, 1945. Lokasi pengambilan foto berada di Madrasah Al-Irsyad Surabaya Jawa Timur.

Informasi dari bloh tokohalirsyad.blogspot.com, menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi pada 21 Januari 1919, yaitu dibukanya secara resmi cabang Al-Irsyad di kota Surabaya. Ini adalah cabang kelima Al-Irsyad di Indonesia.

Pembukaan cabang Surabaya ini dinilai sebagai peristiwa amat penting dalam sejarah Al-Irsyad, karena kedudukan Surabaya waktu itu sebagai pusat kegiatan pergerakan Islam dan tempat berdomisilinya para pemuka masyarakat Muslimin.

Untuk pertamakalinya, cabang ini dipimpin oleh Muhammad bin Rayis bin Thalib sebagai ketua, didampingi Sulaiman bin Abdullah bin Mar’ie sebagai sekretaris. Muhammad bin Abdullah ad-Dara’ Alamudi sebagai bendahara, serta Abdullah bin Saleh Harharah sebagai penasihat.

Sedangkan Madrasah Al-Irsyad Surabaya pertama kali dipimpin oleh Abul Fadhel Sati al-Anshari, saudara kandung Syekh Ahmad Surkati al-Anshari. Kemudian berturut-turut tampil beberapa nama besar lainnya yang memimpin Madrasah Al-Irsyad Surabaya, yaitu Sayyid Abdullah bin Salim Alatas, Sayyid Muhammad al-Mursyidi dari Mesir, Sayyid Abdul-Qadir al-Muhanna juga dari Mesir, dan Sayyid Umar bin Salim Hubeish, anak didik Surkati yang terkemuka.

Madrasah Al-Irsyad Surabaya yang dibuka pada 1919 itu pertama kali menggunakan gedung sewaan di Kampung Cendolan I Nomor 9, sekarang Ampel Cempaka. Kemudian pindah ke Kampung Baru, Gang Bahsin Nomor 32 (sekarang Kalimas Udik II). Lalu pindah untuk ketiga kalinya ke Kampemenstraat 196-198 (sekarang Jalan KH Mas Mansyur).

Setelah terbentuknya Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya di tahun 1924 dan yayasan ini memiliki gedung sendiri di Ambachtschoolweg atau Benteng Miring, yang sekarang dikenal dengan Jalan Sultan Iskandar Muda nomor 46, kegiatan pendidikan milik perhimpunan yang sudah beroperasi sejak berdirinya Al-Irsyad Surabaya di bawah kepemimpinan Abul Fadhel Surkati dan Abdullah Salim Alatas itu dipindahkan ke gedung milik yayasan tersebut.

Ironisnya, beberapa puluh tahun kemudian kegiatan pendidikan itu lalu diklaim sebagai kegiatan yayasan perguruan, padahal yayasan sebetulnya hanya sebagai pemilik aset gedung tersebut, bukan penyelenggara lembaga pendidikan Al-Irsyad di Surabaya sejak berdiri Al-Irsyad di Surabaya. (*)

Komeng: "Bekerjalah yang Keras, Jangan Ikutan Ngelawak, itu Job Komedian"

Tokoh komedian Indonesia, Komeng di acara Hitam Putih yang dipandu Deddy Corbuzier di stasiun televisi Trans7 menyentil kinerja dan kerja pemerintahan Presiden Jokowi dan jajarannya.


"Kepada para semua pejabat, bekerja yang keras. Pak Jokowi kan Presiden, jangan pada ikutan melawak, nanti saya gak dapat job. Bekerja yang lebih keras lagi, tinggal setahun lagi Pak. Kalau yang melawak-melawak serahkan kepada komedian," katanya.

Berikut video Komeng di acara Hitam Putih tersebut:

Pesan Ustaz Arifin Ilham untuk Banser Pembakar Bendera Tauhid

Ustaz Muhammad Arifin Ilham ikut bereaksi terkait insiden bendera tauhid di Garut Jawa Barat. Melalui akunnya di Instagram, dia memohon ampun kepada Allah SWT terkait ulah oknum Banser NU.


"Assalamualaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu. Astagfirullah ya Allah ampunilah kami, jangan Engkau murka karena kelakuan jahillyah kelompok oknum Banser ini. SubhanAllah ini justru membangkitkan ghiroh kecintaan kami kepada Laa Ilaaha Illaallah Muhammadar Rasulullah. Kini kami faham bahwa Alliwa dan Arroyah adalah Panji Mulia, bendera Rasulullah," tulis Ustaz Arifin Ilham.

Kemudian dia melanjutkan, tetaplah sabar, yakinlah ini bukan gambaran keseluruhan anggota Banser. Waspadai provokasi pecah belah. Segeralah bertaubat dan teruslah belajar memahami kemuliaan ajaran Islam. Bendera Tauhid adalah bendera Islam.

Ustaz Arifin Ilham membeberkan risalah panji Rasulullah berwarna hitam dan putih yang dikutip dari Imam At Tarmidzi dan Imam Ibn Majah dari Ibn Abbas.

Sebelumnya, beredar sebuah video yang menampilkan aksi pembakaran bendera hitam dengan kalimat Tauhid. Pelaku-pelaku pembakaran bendera itu terlihat jelas menggunakan seragam Banser NU. Pembakaran bendera tersebut terjadi pada acara peringatan Hari Santri Nasional di Garut Jawa Barat, pada Ahad 21 Oktober 2018.

Rahasia di Balik Kalimat Tauhid

Kalimat Tauhid sangat ringan untuk diucapkan. Hanya berlafadz laa ilaaha illallah, semua orang bisa mengucapkan. Namun di balik kalimat Tauhid ternyata ada rahasia. Yuk simak!


Kalimat Laailaahaillallah merupakan pondasi agama Islam. Kalimat Tauhid ini adalah kalimat yang ringan di lisan.

Saking ringannya, orang-orang kafir, munafiq dan atheis pun mampu mengucapkannya. Tapi kalimat ini tidaklah membuat mereka masuk ke dalam Islam, agama yang suci ini, sebab mereka tidak memahami makna kalimat Tauhid alias kalimat Syahadat. Mungkin sebagian mereka ada yang memahami, tapi enggan mengakui makna dan konsekuensinya.

Kalimat tauhid menjadi unsur yang sakral bila diperdebatkan. Karena menyangkut keimanan seseorang. Esensi dari kalimat Tauhid tentunya menjadi bahasan yang berpatok pada Keesaan Allah.

Kalimat  tauhid La Ilaha Illa Allah bukan hanya sekadar ucapan zikir yang terus menerus diucapkan seorang Muslim. Jika ditelaah lebih mendalam, kalimat ini memiliki keistimewaan tersendiri.

Realita ini mendorong kaum Muslimin untuk mengerahkan tenaga dan pikiran dalam mempelajari makna kalimat Tauhid alias kalimat Syahadat, sebab jika ia tidak memahaminya dengan baik, maka boleh jadi ia mengaku sebagai "muslim", tapi ternyata ia dicap dengan label "kafir" di sisi Allah -Azza wa Jalla-, akibat kelalaian dan keteledorannya dalam mempelajari kalimat Tauhid yang menjadi kunci utama seorang masuk dalam bangunan Islam.

Makna Kalimat Tauhid

Makna lalimat Tauhid La Ilaha Illa Allah adalah لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ الله (tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah). Inilah makna sebenarnya yang telah didefinisikan oleh para ulama ahlisunnah waljama’ah, makna ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat Al-Haj, ayat 62, yang artinya:

"Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah Dialah (Tuhan) yang Hak (benar) dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil."

Akan tetapi ada beberapa penafsiran yang keliru tentang kalimat La Ilaha Illa Allah yang telah tersebar luas di dunia Islam di antaranya:

1. Menafsirkan kalimat Lailahaillallah dengan (لاَ مَعْبُوْدَ إِلَّا الله): "Tidak ada yang diibadahi selain Allah." Padahal makna tersebut rancu, ini berarti setiap yang diibadahi baik benar maupun salah adalah Allah subhanahu wata’ala. Karena Allah subhanahu wata’ala menamakan semua yang disembah di muka bumi sebagai إله (Tuhan).

Ketika Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada orang-orang Musyrik: La ilaha illallah. maka meraka mengatakan:

أَجَعَلَ اْلآلِهَةَ إِلهًا وَاحِدًا إِنَّ هذَا لَشَيْءٌ عُحَابٌ

"Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan yang banyak ini menjadi Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini sesuatu yang mengharankan." (QS. Shood: 5)

2. Menafsirkan kalimat La Ilaha Illa Allah dengan (لاَ خَالِقَ إِلاَّ الله): "Tidak ada pencipta kecuali Allah." Padahal makna tersebut adalah sebagian makna dari kalimat Lailahaillallah dan ini masih berupa Tauhid Rububiyah (Tauhid yang mengakui keesaan Allah saja), sehinga belum cukup.

Karena orang-orang kafir jahiliyah dahulu telah meyakini Allah adalah Tuhan pencipta alam, sebagaimana Allah jelaskan dalam al-Qur'an"

وَلِئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقَوْلُنَّ اللهُ

"Dan jika engkau bertanya kepada mereka, sipakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah." (QS. Az – Zuhkruf: 87)

3. Ada juga yang menafsirkan Lailahaillallah dengan (لاَ حَاكِمَ إِلاَّ الله ): "Tidak ada hakim/penguasa kecuali Allah". Pengertian ini pun tidak mencukupi makna kalimat tersebut karena apabila mengesakan Allah hanya dengan pengakuan sifat Allah Yang Maha Penguasa saja namun masih berdo’a kepada selain-Nya atau menyelewengkan tujuan ibadah kepada sesuatu selain-Nya, maka hal ini belum dikatakan (telah menjalankan makna kalimat tersebut, yaitu bertauhid kepada Allah).

Rukun Kalimat Tauhid 

Bila meneliti dan memandang kalimat Tauhid, maka ia terdiri dari dua potong kalimat. Potongan pertama: ( لا إله ), maknanya: "Sama sekali tak ada sembahan yang haq (benar)." Potongan kedua: ( إلا الله ), artinya: "kecuali Allah."

Potongan pertama meniadakan seluruh jenis peribadahan yang haq (benar) dari seluruh makhluk. Potongan kedua memberikan pembatasan bahwa sembahan ( إله ) yang haq hanyalah Allah -Azza wa Jalla-. (Lihat At-Tamhid, halaman 74, karya Al-Allamah Sholih Alusy Syaikh)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata, "Kalimat ( لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ) mencakup peniadaan, dan penetapan. Adapun peniadaan, yaitu kalimat ( لا إله ). Adapun penetapan, yaitu kalimat ( إلا الله )." (Lihat Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah, halaman 71)

Dari sini para ahli ilmu menyebutkan bahwa kalimat tauhid memiliki dua rukun (pilar): rukun negatif (peniadaan), dan rukun positif (penetapan). Jadi, rukun negatif ( النفي ) akan meniadakan seluruh jenis sembahan-sembahan yang haq (benar), lalu dengan rukun positif ( الإثبات ) seseorang menetapkan bahwa hanya Allah yang terkecualikan dari peniadaan tersebut. Seorang yang muslim tak disebut "bertauhid" ( مُوَحِّدٌ ) jika tidak melaksanakan dua rukun tersebut.

Tak boleh seorang hanya menyatakan bahwa tak ada ilah (sembahan) yang haq, sebab jika ia hanya menyatakan demikian, maka ia tergolong atheis. Demikian pula tak cukup seseorang menyatakan bahwa Allah adalah ilah (sembahan) yang haq (benar), lalu ia tak mengingkari sembahan-sembahan lain.

Jika ia tak mengingkarinya, maka ia tergolong musyrik seperti orang-orang Quraisy. (Lihat Al-Qoul Al-Mufid fi Adillah At-Tauhid, halaman 34, cet. Dar Ibn Hazm, 1427 H)

Jika salah satu diantara rukun ini hilang karena tidak diakui dan diyakini oleh seseorang, maka ia adalah kafir, walaupun mengucapkannya 100 kali dalam sehari. Jika salah satunya hilang, maka kalimat tauhid tidak akan bermanfaat bagi pengucapnya.

Oleh karena itu, seorang tidak boleh hanya berdzikir dengan mengucapkan ( لا إله ) sebanyak enam ratus kali secara terpisah dari kalimat ( إلا الله ) yang diulangi sebanyak empat ratus kali sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum sufi. (Lihat Al-Qoul Al-Baligh fir Rodd ala Jama’ah At-Tabligh, halaman 159, karya Hamud At-Tuwaijiriy).

(Sumber: http://www.wajibbaca.com/2018/08/kalimat-tauhid.html)

Kehebatan Kalimat Tauhid

Oleh: Ustad Luthfi Bashori

Dalam bendera yang dikibarkan oleh Nabi Muhammad SAW itu bertuliskan "Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasuulullaah."


Kalimat Laa ilaaha illallaah merupakan kunci Surga sebagai sabda Rasulullah SAW:

إذا سألك أهل اليمن عن مفتاح الجنة فقال لا إله إلا الله

"Apabila golongan yang menang bertanya kepadamu tentang kunci Surga, maka katakanlah "Laa ilaaha illallaah"

Termasuk harta dan darahnya telah diharamkan oleh Allah, serta hisabnya di akhirat kelak hanya terserah Allah bagi para pemuja Laa ilaaha illallaah, sebagimana sabda Rasulullah SAW:

من قال لااله الاالله وكفر ما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله

"Barang siapa yang berkata: Laa ilaaha illallaah (tidak ada Tuhan selain Allah) dan mengkufuri sesuatu yang dijadikan sesembahan, maka hartanya, darahnya dan hisabnya diharamkan oleh Allah." (HR. Bukhari)

Tubuhnya tidak akan disentuh oleh Api Neraka

من شهد أن لا إله إلا الله مخلصا من قلبه لم تمسه النار

"Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, dengan tulus ikhlas dari hatinya, maka ia tidak akan disentuh oleh Api Neraka." (HR. Ahmad, Ibn Hibban, Abu Nu’aim).

Orang yang mengucapkan "Laa ilaaha illallah" akan dikeluarkan oleh Allah dari Neraka dan dimasukkan kedalam Surga, sebagaimana dalam hadits Qudsi Allah berfirman:

وعزتي وجلالي لاخرجن من النار من قال لاإله إلا الله

"Dan kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan keluarkan dari Api Neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah." (Muttafqun Alih).

HANYA AHLI NERAKA DARI KALANGAN ORANG-ORANG KAFIR & KAUM MUNAFIQ SAJA YANG MEMBENCI KALIMAT TAUHID:

 لا اله الا الله ، محمد رسول الله

LAA ILAAHA ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULULLAH (SAW)

(Sumber: http://warasmedia.com/kehebatan-kalimat-tauhid-laa-ilaaha-illallaah.html)

Catat! Ini Perbedaan Bendera HTI dan Bendera Tauhid Menurut Kemendagri

Peringatan Hari Santri 2018 dinodai dengan aksi pembakaran bendera tauhid La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah yang dilakukan oleh oknum Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Garut, Ahad (21/10/2018).


Ya Allah.. Itu Bendera Tauhid, kami umat Islam mati diselimuti kalimat itu, kenapa dibakar?

Dari rekaman video berdurasi 02.05 menit yang viral di jagad maya,  pembakaran dilakukan oleh belasan anggota Banser sambil menyanyikan mars NU.

Pihak GP Ansor melalui Ketua Umum Yaqut Cholil Qoumas mengklaim yang dibakar anggotanya adalah bendera Hizbut Tahir Indonesia (HTI).

Pro kontra pun ramai berseliweran di jagad maya. Banyak yang menilai bendera yang dibakar oknum Banser tersebut adalah bendera tauhid, yakni bendera milik umat Islam secara keseluruhan. Bendera berwarna dasar hitam atau putih tersebut kerap dipakai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebetulnya, Kementerian Dalam Negeri jauh-jauh hari sudah mengeluarkan sikap soal persoalan ini. Melalui Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Soedarmo mengungkapkan perbedaan antara bendera HTI dengan bendera Rasulullah.

“Yang kami larang itu adalah bendera dengan simbol HTI, bukan bendera tauhid. Keduanya berbeda, kalau HTI ini mencantumkan tulisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di bawah kalimat Laillahaillallah,” kata Soedarmo seperti dikutip dari laman Kemendagri, 22 Juli 2017.

Eks juru bicara HTI Ismail Yusanto juga pernah membantah. Menurut Ismail, bendera tersebut adalah bendera umat Islam yang ditetapkan Rasulullah dalam haditsnya.

Ada dua jenis bendera Rasulullah tersebut, yakni bendera Al Liwa dan Ar Rayah. Bendera Al Liwa adalah bendera berwarna putih dengan tulisan La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah berwarna hitam. Sebaliknya Ar Rayah berupa bendera hitam dengan tulisan tauhid berwarna putih.* (Syaf/voa-islam.com)


Mengenal Bendera Rasulullah SAW

Tentu penting untuk mengenalkan kembali panji Rasul saw, yakni al-Liwa’ dan ar-Rayah. Pasalnya, saat ini masih banyak Muslim tidak mengenal panji Rasulnya sendiri, yakni panji tauhid.


Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Ashqalani di dalam Fathu al-Barî (vi/126) menyebutkan: Al-Liwa’ adalah rayah; juga disebut ‘alam (bendera). Bendera ini asalnya dipegang oleh panglima tentara dan diemban di atas kepalanya. Abu Bakar bin al-‘Arabi mengatakan, al-Liwa’ berbeda dengan ar-Rayah. Al-Liwa’ dipasang di ujung tombak dan dililitkan. Adapun ar-Rayah dipasang di ujung tombak dan dibiarkan ditiup angin. Ada yang mengatakan, al-Liwa’ berbeda dengan ar-Rayah. Ada yang mengatakan, al-Liwa’ adalah bendera besar, tanda posisi panglima dan mengikuti ke mana pun ia berada.

Imam at-Tirmidzi cenderung membedakan ar-Rayah dengan al-Liwa’. Saat menjelaskan al-Liwa’, beliau mengemukakan hadis dari Jabir ra., bahwa Rasulullah saw. telah memasuki Makkah dan al-Liwa’-nya berwarna putih. Saat menjelaskan ar-Rayah, beliau mengemukakan hadis dari al-Barra’ ra., bahwa Rayah (Panji) Rasulullah saw. berwarna hitam persegi empat, terbuat dari kain wol; juga hadis Ibn ‘Abbas yang menyatakan bahwa Rayah beliau berwarna hitam, sedangkan Liwa’ beliau berwarna putih.

Rayah dan Liwa’ Rasul saw.

Rayah dan Liwa’ Rasul saw. digambarkan secara detil dalam banyak hadis, baik warnanya, bentuknya maupun tulisannya. Tentang warnanya, hadis-hadis sahih dengan jelas menyebutkan bahwa Liwa’ Rasul saw. berwarna putih dan Rayah beliau berwarna hitam. Ibnu ‘Abbas ra. menuturkan:

«كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ»

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi, ath-Thabarani dan Abu Ya’la).

Jabir bin Abdullah ra. juga menuturkan:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- دَخَلَ مَكَّةَ يَوْمَ الْفَتْحِ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

Nabi saw. memasuki Makkah pada hari Fathu Makkah dan Liwa’ beliau berwarna putih (HR at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Bentuk Rayah dan Liwa’ Nabi saw. itu persegi empat. Al-Barra’ bin ‘Azib ra. menuturkan:

أَنَّ رَايَة رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ سَوْدَاء مُرَبَّعَة مِنْ نَمِرَة

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam, persegi empat, terbuat dari kain wol Namirah (HR at-Tirmidzi, an-Nasai dan al-Baghawi).

Pada Rayah dan Liwa’ Rasulullah saw. tertulis kalimat tauhid Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh, sebagaimana hadis penuturuan Ibnu Abbas ra.:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضَ مَكْتُوْبٌ فِيْهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih; tertulis di situ lâ ilâha illa AlLâh Muhammad RasûlulLâh (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy saw).

Makna Panji Rasulullah saw.

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. merupakan kemuliaan bagi pemegangnya. Saat Perang Khaibar, misalnya, para sahabat termasuk Umar bin al-Khaththab amat berharap mendapatkan kemuliaan diberi mandat memimpin detasemen dengan diserahi ar-Rayah oleh Rasul saw. Namun, Ali bin Abi Thaliblah yang akhirnya mendapat kemuliaan itu. Rasulullah saw. menyerahkan ar-Rayah dalam berbagai peperangan kepada panglima pasukan kaum Muslim. Di antaranya, dalam Perang Mu’tah, Rasul saw. menyerahkan ar-Rayah kepada Zaid bin Haritsah. Jika ia syahid, ia digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far syahid, ia digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Yang terakhir diserahi ar-Rayah adalah Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan untuk melawan Romawi.

Rayah Rasul saw. itu merupakan panji tauhid dan menjadi lambang eksistensi kaum Muslim dalam peperangan. Para sahabat pun mempertahankan ar-Rayah dengan taruhan nyawa agar ar-Rayah itu tidak jatuh. Dalam Perang Uhud, Mush’ab bin Umair mempertahankan ar-Rayah yang ia pegang hingga kedua lengan beliau putus tertebas oleh musuh, namun beliau masih terus mendekap Rayah itu dengan sisa kedua lengannya hingga akhirnya ia syahid. Rayah itu lalu dipegang oleh Abu ar-Rum bin Harmalah dan ia pertahankan hingga tiba di Madinah.

Namun, makna Rayah dan Liwa’ Rasul saw itu bukan terbatas dalam peperangan saja, apalagi berhenti sekadar simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Liwa’ dan Rayah Rasulullah saw. merupakan lambang akidah Islam. Pada al-Liwa` dan ar-Rayah tertulis kalimat tauhid: Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran, yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat.

Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, panji tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah saw. kelak pada Hari Kiamat. Panji ini disebut sebagai Liwa` al-Hamdi. Rasulullah saw. bersabda:

«أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ وَبِيَدِى لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ وَمَا مِنْ نَبِىٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِى…»

Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan tidak ada kesombongan. Di tanganku ada Liwa` al-Hamdi dan tidak ada kesombongan. Tidak ada nabi pada hari itu Adam dan yang lainnya kecuali di bawah Liwa’-ku (HR at-Tirmidzi).

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. juga merupakan pemersatu umat Islam. Kalimat tauhid Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keragaman bahasa, warna kulit, suku, bangsa ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia bahwa jika suatu kaum berhimpun di bawah satu panji/bendera, itu berarti panji/bendera itu menjadi tanda kesatuan pendapat mereka (ijtimâ’i kalimatihim) dan persatuan hati mereka (ittihâdi qulûbihim). Dengan demikian mereka bagaikan satu tubuh (ka al-jasad al-wâhid) (Abdul Hayyi al-Kattani, Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah [At-Tarâtib al-Idâriyyah], I/266).

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu bisa dimaknai sebagai identitas Islam dan kaum Muslim. Pasalnya, Liwa’ dan Rayah Rasululah saw. ini tidak hanya dikibarkan dan dijaga, tetapi juga dihormati. Rayah Nabi saw. itu tidak boleh diinjak, dijadikan bantal, dibawa atau diletakkan di tempat-tempat yang identik dengan penghinaan; seperti dibawa ke kamar mandi, dijadikan serbet, keset dan sejenisnya. Dalilnya bahwa “Rasulullah saw. memakai cincin yang diukir dengan kalimat: Muhammad RasululLâh. Jika masuk kamar mandi, beliau selalu melepas cincin itu.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Faktanya, pada Liwa’ dan Rayah Rasul saw. sama-sama tertulis lafzh al-Jalâlah. Karena itu apapun sikap dan tindakan yang bertujuan untuk menghinakan al-Liwa’ atau ar-Rayah yang bertuliskan “Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh” jelas dilarang.

Bentuk penghinaan yang dilarang tidak hanya dalam bentuk verbal, dengan menempatkan di tempat yang identik dengan penghinaan, tetapi juga penghinaan dalam bentuk non-verbal; seperti menyatakan bahwa bendera tersebut bendera teroris, bahkan dikriminalisasi.

Tentu aneh sekali jika penghinaan dan pelecehan itu datang dari seorang Muslim. Bagaimana mungkin seorang Muslim melecehkan panji Tauhid, padahal kalimat tauhid itulah yang akan menyelamatkan dia di akhirat kelak dari siksa neraka? Bagaimana mungkin seorang Muslim, yang mengaku menjadi pengikut Nabi saw., yang di akhirat berharap mendapat syafaat beliau, justru membenci dan merendahkan panji Rasulullah saw? Bagaimana mungkin seorang Muslim yang berdoa agar di akhirat dinaungi di bawah Liwa’ al-Hamdi Rasul saw. justru memusuhi panji itu saat di dunia?

Memang ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasul saw. juga menyerahkan Rayah berwarna kuning atau merah. Dari situlah hukum kebolehan menggunakan panji lain bersamaan dengan al-Liwa’ dan ar-Rayah. Namun loyalitas dan penghormatan terhadap panji lain itu tidak boleh melebihi loyalitas dan penghormatan kepada Liwa’ dan Rayah Rasul saw. Alasannya, jika seperti itu maka penggunaan panji lain itu sudah termasuk dalam seruan ‘ashabiyah jahiliyah, yang dilarang tegas oleh Rasul saw., sebagaimana sabdanya:

«…وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ …»

Siapa yang berperang di bawah panji ‘ummiyyah (kesesatan), marah karena ‘ashabiyah, menyerukan ‘ashabiyah atau membela ‘ashabiyah, lalu terbunuh, maka ia mati jahiliah (HR Muslim, an-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

Penisbatan al-Liwâ’ dan ar-Râyah dalam hadis dan atsar kepada Rasul saw. menegaskan Liwa’ dan Rayah itu merupakan syiar Islam. Apalagi kalimat tauhid yang menjadi ciri khas keduanya merupakan kalimat pemisah antara iman dan kekufuran. Kalimat ini menyatukan kaum Muslim dalam ikatan yang hakiki, yakni ikatan akidah Islam. Karena itu Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu harus diagungkan dan dijunjung tinggi, menggantikan syiar-syiar jahiliah yang menceraiberaikan kaum Muslim dalam sekat-sekat ‘ashabiyah. Allah SWT berfirman:

ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sungguh itu timbul dari ketakwaan kalbu (TQS al-Hajj [22]: 32).

Syaikh an-Nawawi al-Bantani (w. 1316 H), menjelaskan ayat tersebut, bahwa di antara sifat terpuji yang melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syiar-syiar Allah, yakni syiar-syiar Dîn-Nya (an-Nawawi al-Bantani, Syarh Sullam at-Tawfiq, hlm. 103, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Jakarta, 1431 H).

Alhasil, seperti dinyatakan oleh Imam Muhammad asy-Syaibani dalam As-Siyar al-Kabîr dan oleh Imam as-Sarakhsi dalam Syarhu as-Siyar al-Kabîr, Liwa’ kaum Muslim selayaknya berwarna putih dan Rayah mereka berwarna hitam sebagai bentuk peneladanan kepada Rasul saw. Umat Islam juga seharusnya menjunjung tinggi dan menghormati Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu serta berjuang bersama untuk mengembalikan kemulian keduanya sebagai panji tauhid, identias Islam dan kaum Muslim sekaligus pemersatu mereka.

Al-Islam no. 851, 10 Rajab 1438 H – 7 April 2017 M
(Dari: https://www.dibalikislam.com/2017/04/mengenal-bendera-rasulullah-saw.html)

Alasan Ilmiah Pria Perlu Masturbasi 21 Kali Sebulan, Wow!

Kepada semua pria di luar sana, ada kabar gembira. Mungkin memang susah dipercayai, tapi ternyata masturbasi dengan frekuensi yang terkontrol bisa secara signifikan mengurangi berbagai risiko kesehatan. Jika kamu bisa menahannya gak masalah, tapi kebutuhan biologis ini gak bisa dibohongi.


Sehingga kalau memang butuh, jangan ditahan, toh itu akan bisa menyehatkan. Kok bisa? Baca selengkapnya di sini ya!

1. Pria yang mencapai klimaks 21 kali atau lebih dalam sebulan bisa mengurangi risiko kanker prostat

Risikonya akan berkurang sampai 30% lho! Ini hasil dari penelitian Harvard University yang dipublikasi dalam European Urology. Penelitian ini menggunakan kuisioner yang melibatkan 31.295 pria di atas 18 tahun, dengan frekuensi ejakulasi dipertimbangkan sebelum membagikan kuisionernya. Termasuk pembagian umur dalam kategori 18-20, 20-29 sampai 40-49.

2. Penelitian sebelumnya memang mengatakan bahwa kehidupan seksual yang aktif bisa mengurangi risiko kanker, tapi angka pastinya baru ditemukan sekarang

Jumlah orgasme dalam waktu sebulan ini muncul dari kesimpulan para peneliti. Beberapa peneliti percaya bahwa orgasme yang sukses akan ikut membuang racun-racun penimbul kanker yang terbentuk di dalam prostat.

3. Sekitar 1 dari 7 pria di Amerika Serikat mengalami kanker prostat sepanjang hidupnya

Tahun 2016, ada sebanyak 161.360 pria yang terdiagnosa, 27.000 di antaranya meninggal. Risikonya bahkan meningkat drastis ketika usia 65 tahun ke atas, dengan 85% yang terdiagnosa ada di rentang usia ini.

4. Untungnya, tingkat bertahan hidup dari kanker prostat secara relatif jauh lebih tinggi dibanding kanker lainnya

Perawatannya bervariasi dari invasif sampai operasi. Radiotherapy dan operasi (radical prostatectomy) tersedia untuk tumor lokal. Namun tetap saja perawatannya bisa meninggalkan efek sepanjang hidup, seperti incontinence (ketidakmampuan untuk mengontrol urin) dan impotensi (ketidakmampuan untuk ereksi).

5. Karena potensi efek sampingnya, memang lebih baik melakukan pencegahan daripada tersiksa karena efek pasca perawatannya

Mencegah lebih baik daripada mengobati, itu yang sudah dipahami secara umum. Penelitian ini bermaksud untuk memperbaiki pola hidup dengan tujuan mengurangi risiko. Jadi, kenapa tidak?

6. Sayangnya, kamu gak bisa sekedar masturbasi sebanyak-banyaknya dan berharap kamu akan baik-baik saja

Tentunya gaya hidup tersebut harus diimbangi pola makan sehat, istirahat cukup, berolahraga teratur dan pemeriksaan kesehatan rutin ke dokter. Semuanya jika dilakukan akan secara signifikan mengurangi risikonya. Sangat dianjurkan kamu melakukan semuanya untuk menjadi sesehat mungkin.

Jadi, untuk para pria. Lakukan saja! Toh demi kesehatan. Namun yang perlu diingat bahwa anjuran ini untuk pria yang sehat, dalam artian gak ada pantangan untuk bermasturbasi. Lagipula masturbasi yang aman dan sehat memang bertujuan untuk menghindarkanmu dari aktivitas seksual yang gak sehat atau gak sah, kan? Ya, sebaiknya lakukan dengan aman dan sehat secara teratur serta terkontrol.

(Sumber: https://www.idntimes.com)