Mendengarkan Omelan Istri Baik Untuk Kesehatan Suami

Wahai para suami, dengarkanlah omelan istri Anda

Anda sering pusing kepala karena tak tahan mendengar omelan istri? Tahan dulu, Ayah. Studi terbaru menunjukkan, pria yang sering diomeli istri di rumah justru lebih sehat daripada pria yang jarang diomeli pasangannya.


Omelan istri memang membuat suami tidak bahagia dengan pernikahannya. Akibatnya, mereka berisiko menderita diabetes. Namun ini “berhasil” membuat para suami yang menderita diabetes mengatur dan menjaga kesehatan diri.

Studi ini dilakukan oleh Michigan State University, dengan mengambil sampel dari 1228 pasangan suami istri selama lima tahun. Para pasangan itu berusia 57 sampai 85 tahun saat studi dimulai. 389 dari mereka menderita diabetes saat studi berakhir.

Ketua studi Dr. Hui Liu mengatakan, tujuan studi adalah menentang asumsi tradisional bahwa pernikahan yang tidak bahagia akan merugikan kesehatan. Studi juga bertujuan mengingatkan para ahli di bidang keluarga untuk mengenal sumber dan tipe kualitas pernikahan yang berbeda.

Mengomel tanda sayang

Siapa yang akan merawat suami jika ia sakit? Jelas istrinya. Di sinilah istri berperan penting untuk mengingatkan suami kapan harus check up, minum obat, apa makanan atau minuman yang boleh dan tidak boleh dan lain-lain.

Istri dapat membantu suami yang menderita diabetes dengan mengingatkannya untuk menjaga kesehatan. Di sisi lain, suami kadang merasa terganggu dengan anjuran istri dan menganggapnya berlebihan. Akibatnya, suasana pernikahan pun menjadi tegang dan kurang bahagia.

Dr. Liu meneliti peran kualitas pernikahan pada risiko dan penanganan diabetes. Ia menemukan dua fakta menarik. Pria bisa memiliki risiko diabetes lebih rendah jika pernikahan mereka kurang bahagia. Kemampuan untuk menjaga kesehatan pun meningkat, jika mereka telah terserang diabetes.

Sedangkan wanita cenderung kurang berisiko menderita diabetes jika pernikahan mereka bahagia. Dr Liu mengatakan, wanita dapat lebih sensitif dari pria mengenai kualitas pernikahan. Kesehatan wanita akan meningkat jika pernikahan mereka bahagia.

Oleh karena itu, Ayah, jangan pasang tampang masam kalo Ibu selalu cerewet mengingatkan Ayah agar banyak minum air putih dan tidak begadang melulu. Ibu mengomel karena sayang sama Ayah loh. (*Sumber: dr-keluarga.com)

Kenapa Adzan Harus Keras-keras?

Mengapa adzan harus dikumandangkan keras-keras? Pakai speaker pula. Apa tidak mengganggu yang lain yang bukan orang Muslim?


Ada sebuah cerita menarik yang diceritakan seorang teman melalui aplikasi perbincangan di grup WhatsApp, berikut kisahnya:

Adalah teman saya, yang kebetulan non Muslim, bertanya kepada saya; "Kenapa kalau adzan harus dibunyikan keras-keras dengan speaker pula?"

Saya yang bukan ahli agama kemudian berpikir sejenak mencari jawaban yang mudah dicernanya, menjawab seperti ini; "Bro, adzan itu adalah panggilan shalat, pasti dong namanya panggilan tidak mungkin dengan cara yang sama seperti berbicara atau berbisik-bisik."

Teman saya membalas "Tapi kan di orang-orang sekitar tidak semuanya Muslim?"

Saya jawab lagi; "Benar bro, kita sekarang sedang ada di Bandara, dengar kan announcement Bandara selalu memberikan panggilan boarding? Apakah kamu juga mempertanyakan ke mereka mengapa melakukan panggilan boarding pesawat yang lain keras-keras padahal bukan panggilan pesawatmu?"

Dia tersenyum namun membalas lagi; "Tapi kan hari gini semua orang sudah tahu dengan teknologi jam, bisa menyetel waktu shalat, apa masih harus adzan keras-keras?".

Saya kemudian menjawab; "Ya setiap penumpang juga kan sudah tau jadwal penerbangannya sejak pesan dan memegang tiket, kemudian check-in, sudah tercetak jadwal keberangkatannya di boarding pass, sudah masuk ruang tunggu, tapi tetap bandara melakukan panggilan boarding bukan?

Dan ada satu hal lagi mengapa adzan harus dikumandangkan, itu bukan hanya sebagai penanda sudah masuk waktu shalat tapi benar-benar panggilan shalat, karena kami harus menyegerakan shalat. Sama halnya semua penumpang harus menyegerakan masuk pesawat setelah panggilan boarding, walaupun masih ada waktu naik pesawat sampai pesawat tutup pintu."

Kali ini senyumnya bertambah lebar, lalu dia setengah memeluk aku sambil menepuk-nepuk bahuku dan berkata; "Super.. I got it bro.."

Yuk, Hindari Perayaan Valentine Day

Hari Kasih Sayang alias Valentine Day kerap disalahgunakan oleh muda-mudi untuk berbuat maksiat. Ironisnya, tak sedikit generasi muda Islam ikut terjerumus ke dalam jeratan efek negatif dari perayaan hari yang jatuh 14 Februari tiap tahunnya itu.


Sikap Islam tegas terhadap penyalahgunaan hari Valentine Day. Namun tetap saja, larangan mengagungkan Valentine Day dengan ritual maksiat di dalamnya, tak diindahkan oleh sebagian remaja.

Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Jamaah Nuruzzaman Universitas Airlangga, Jefri Nur Ihsan, mengingatkan kepada generasi muda Islam bahwa toleransi terhadap perayaan Valentine akan berdampak tidak baik bagi moral pemuda Islam.

Ia mengatakan, sebagai pribadi Muslim, tentunya nurani kita wajib menolak perayaan apa pun yang cenderung pada kemaksiatan dan melanggar norma agama, tak terkecuali Hari Kasih Sayang ini. Karena itu, hal yang paling penting bagi pemuda Muslim adalah menolak untuk ikut-ikutan merayakannya.

Memang diakui dia, seruan ini seolah tidak populis lagi bagi generasi muda. Namun, itulah kenyataan yang terjadi sekarang ketika sebagian generasi muda Islam terlibat membudayakan Valentine sebagai perayaan rutin setiap tahun. "Cukup prihatin dengan kondisi generasi muda Islam kini yang telah membudayakan perayaan Valentine," ujarnya.

Bagi dia, apa pun alasannya budaya Valentine yang dibawa dari Barat tersebut memiliki kecenderungan yang negatif. Selain budaya tersebut bukan dari anjuran Islam, Valentine menggerogoti moral generasi muda kini. Sangat disayangkan bila pemuda Muslim tidak berani tegas menyuarakan anti-Valentine.

"Padahal, masa depan sebuah negara itu dilihat dari para pemudanya," katanya. Dia berpendapat, penolakan itu tetap relevan sampai kapan pun, bahkan ketika generasi muda sudah tidak peduli lagi dengan moral yang mereka miliki.

Dia yakin, di tengah cibiran atas aksi penolakan ini, masih banyak kalangan yang menolak keras perayaan yang bisa merusak moral ini. Pada saat yang bersamaan, dia mengakui bila Valentine ini sudah menjadi budaya di Indonesia kelak, akan sulit untuk menghilangkannya. Karena itu, solusi yang bisa ditawarkan bagi generasi muda Islam adalah mengalihkan fokus tersebut dan menggantinya dengan kegiatan alternatif dan inovatif.

Jefri mencontohkan upaya untuk merayakan Hijab Day pada 14 Februari merupakan salah satu upaya untuk mengalihkan energi generasi muda Islam dari Valentine. Langkah ini, menurut dia, sangat baik dan bisa efektif bila menjadi agenda nasional generasi muda Islam di Indonesia.

Selain itu, butuh dukungan nyata juga dari pemerintah agar kampanye Hijab Day ini menjadi lebih besar dan mengalahkan kampanye perayaan Valentine yang cenderung pada nilai moral yang negatif.

Menurut Ketua LDK Al Hurriyyah Institut Pertanian Bogor, Muhammad Dzulqornain, tidak ada istilah tidak relevan atau ketinggalan zaman untuk mengampanyekan penolakan budaya Valentine.

Sebab, perayaan Valentine's Day pada masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana,  seperti pesta, kencan, bertukar hadiah, hingga penghalalan praktik zina secara ilegal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Menjadi sangat ironis, jelas dia, banyak remaja Muslim tidak mengetahui bagaimanakah sejarah hari Valentine. "Karena mereka cuma asal ikut- ikutan tren, juga supaya mau dikatakan gaul, akhirnya mereka pun merayakannya," ujar dia menerangkan.

Bila merujuk sejarahnya, Valentine bukanlah budaya yang berasal dari Islam dan tradisi budaya timur di Indonesia. Bahkan, pada hakikatnya perayaan seperti ini sungguh sangat bertentangan dengan syariat Islam.

Sudah sepatutnya sebagai generasi muda Islam berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut. Terlebih jelas sudah ritual Valentine adalah ritual non-Muslim.

Bahkan, secara tegas Nabi Muhammad SAW mengingatkan, "Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka" (HR Ahmad dan Abu Daud). Menurut dia. hadis ini jelas agar Muslim tidak membudayakan perayaan yang bukan dari Islam. Dan, ia pun berharap Valentine Day ini bukan menjadi budaya generasi muda Indonesia kini dan kelak. Masih banyak budaya positif yang bisa dicontoh oleh anak muda sekarang.

Ia menegaskan, tugas generasi muda Islam untuk menolak perayaan ini. Bahkan, kata dia, penolakan ini perlu selalu disuarakan setiap tahun. Karena, dari generasi mudalah aset bangsa ini menjadi lebih baik. "Jika aset ini tidak dijaga baik-baik, lalu bagaimanakah negeri ini ke depannya," katanya.

Ia mengatakan, solusi yang lebih baik untuk mengalihkan perayaan Valentine ini memang telah dirintis pada 2012. Generasi muda Islam di Indonesia pada 14 Februari telah sepakat menjadikan hari itu sebagai gerakan bernama Gerakan Menutup Aurat.

Gerakan ini fokus berusaha membendung perzinaan yang terus berlangsung. Kampanye damai tersebut kini terus disuarakan serentak setiap tahun. Dan, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga telah diikuti oleh kaum Muslimin Malaysia.

Karena itu, ia mengajak kepada seluruh elemem masyarakat menolak dan melawan segala perayaan Valentine Day. Sebagai solusi alternatifnya, yaitu mengganti perayaan tersebut dengan Hari Menutup Aurat International sebagai gerakan awal dalam membenahi masalah moral. Kampanye ini bisa menjadi salah satu solusi dan upaya preventif untuk mengurangi dampak negatif dari tradisi Valentine.

(Sumber: REPUBLIKA.CO.ID. Oleh Amri Amrullah. http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/15/02/15/njtd4t-yuk-hindari-perayaan-valentine-day)

Jangan Biasakan Minta Oleh-oleh dari Teman yang Berpergian

Rasululah shallallahu alaihi wasallam melarang seorang muslim untuk meminta-minta dari orang lain, tanpa ada kebutuhan yang mendesak.


Karena perbuatan meminta-minta merupakan perbuatan menghinakan diri kepada makhluk dan menunjukkan adanya kecendrungan kepada dunia dan keinginan untuk memperbanyak harta.

Dan beliau shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa barangsiapa yang melakukan perbuatan meminta-minta yang hina ini, maka dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong dagingpun yang melekat di wajahnya. Ini sebagai balasan yang setimpal baginya kareka kurangnya rasa malu dia untuk meminta-minta kepada sesama makhluk.

"Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun." (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725).

"Sesungguhnya harta ini adalah lezat dan manis. Maka siapa yang menerimanya dengan hati yang baik, niscaya ia akan mendapat berkahnya. Namun, siapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, maka dia tidak akan mendapat berkahnya, dia bagaikan orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Al-Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1717).

Ringankanlah orang yang menjalani Safar karena safar adalah potongan dari azab.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Saw bersabda, "Berpergian (safar) itu adalah sebagian dari siksa. Ia menghalangi seseorang dari makan, minum dan tidurnya. Maka apabila seseorang telah selesai dari urusannya hendaklah ia segera pulang ke keluarganya." (HR Bukhari dan Muslim).

"Dikatakan bagian dari azab, karena safar akan meninggalkan segala yang dicintai." (Fathul Bari, Ibnu Hajar).

Bisa jadi yang dimaksud dicintai ini adalah keluarga yang ia cintai, rumah yang nyaman, ibadah yang teratur, dan lain-lain. Sedang setiap perjalanan tidak ada jaminan akan bisa kembali, lalu mengapa kita bebani dengan titipan dan amanah yang membebani.

Sekadar tips buat yang bersafar, untuk menjaga saudara kita dari meminta, jika berkelebihan rezeki akan lebih indah jika kita memberi sedikit oleh-oleh karena tangan di atas lebih mulia.

Dan tips untuk yang menerima oleh-oleh bersyukurlah atas setiap bentuk rezeki yang didapat karena dengan bersyukur kita akan semakin mendapat nikmat yang banyak. (*Oleh: Ernydar Irfan/Islampos.com)

Pelawak Mengolok-olok Islam di Zaman Nabi Ditangkap dan Terhina

Di era Nabi Muhammad, kabarnya ada seorang yang melakukan olok-olok terhadap agama Islam. Seseorang yang hidup di zaman Nabi ini mengolok-oloknya melalui candaan seperti zaman sekarang. Atau dapat disebutkan seperti kasus-kasus dugaan beberapa artis yang coba membawakan agama Islam dalam gurauannya.


Nasib pelawak di era Nabi itu akhirnya ditangkap dan kemudian dihukum mati karena perbuatannya.

"Dulu, ada seorang bernama Abu Sarah melakukan stand up comedy yang menghina Islam, Rasulullah dan Al Quran. Ia berlelucon dengan mengatakan Rasulullah, karena tak bisa baca tulis, berhasil ia bohongi. Mendengar itu kaum kafir Quraisy tertawa. Selain Abi Sarah, ada juga Abdullah ibn Hilal dan Miqyas ibn Shubahah. #ComicJamanOld yang melakukan stand up komedi menghina Islam demi untuk sekedar dianggap lucu dan ditertawakan. Saat Fathul Makkah, Rasulullah memerintahkan sahabat untuk menangkap ketiga orang #ComicJamanOld ini sekalipun mereka bersembunyi di dalam Ka'bah. Ketiga orang #ComicJamanOld itu pun dihukum mati," tulis Azzzam M Izzulhaq, di akunnya di Twitter, Rabu (10/1/2018).

Ia ingin memberitahukan bahwa dalam menyikapi lawakan terhadap Islam sesungguhnya mestilah serius.

Dalam menyikapi penghina Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya, Islam tidak main-main. Ulama salaf generasi tabi'in bahkan menulis kitab khusus "As Syaif al Maslul 'ala Man Sabb ar Rasul" (Pedang Terhunus kepada Penghina Rasul). Saya hanya mewanti-wanti, bahwa #ComicJamanOld yang melakukan stand up comedy yang demi mendapatkan gelak tawa penontonnya itu sudah ada sejak zaman Rasulullah Muhammad S.A.W.

Kabar buruknya, mereka mati dalam kondisi terhina.

Ustadz Solmed: Lawakan Joshua Suherman dan Ge Pamungkas Tak Enak Didengar

Joshua Suherman dan Ge Pamungkas hingga kini masih menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Keduanya dinilai telah melecehkan Islam lantaran memasukkan unsur agama ke dalam lawakan, membuat mereka dihujat dan dicap sebagai melakukan pelecehan.


Menanggapi derasnya tudingan dan anggapan masyarakat terhadap dua komika ini, Ustadz Solmed mengaku tak mau banyak berkomentar. Ia hanya menyatakan bahwa materi stand-up comedy yang dibawakan dua anak muda ini tidak tepat.

"Saya pikir saya tidak mau masuk ke ranah itu ya. Melecehkan atau tidak melecehkan buat saya memang kurang tepat pendapat mereka ini. Tidak tepat, karena seperti ada rasa yang gimana gitu," ungkap Ustadz Solmed yang dihubungi Okezone melalui sambungan telefon, Jumat (12/1/2018).

Tak hanya pelaporan kepihak berwajib dan julukan pelaku pelecehan agama yang didapatkan Joshua Suherman dan Ge Pamungkas. Keduanya bahkan telah dicap oleh warganet sebagai seorang penista agama.

Menanggapi hal tersebut, suami April Jasmine ini menyatakan bahwa tak hanya konten dari keduanya yang berpengaruh dalam tudingan masyarakat. Melainkan intonasi suara keduanya saat membawakan lawakan juga turut memiliki pengaruh besar dalam munculnya tudingan dari masyarakat.

"Kalimat-kalimat itu kadang menjadi kurang enak didengar, tidak etis didengar, ketika selain konten tapi intonasi juga, itu berpengaruh. Memang intonasi keduanya dalam menyampaikan itu terkesan melecehkan," tandasnya. (*)

Pesan Din Syamsuddin untuk Joshua dan Ge Pamungkas

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Prof Din Syamsuddin berpesan kepada semua publik figur di Indonesia untuk berhati-hati saat berbicara di depan publik.


Pesan ini juga disampaikan kepada dua komika Indonesia, Joshua Suherman dan Ge Pamungkas, yang saat ini sedang menghadapi masalah dugaan penghinaan agama.

"Saya berpesan kepada semua publik figur yang tampil di depan publik untuk berhati-hati terhadap persoalan yang sangat sensitif terutama dalam masalah SARA," ujarnya saat ditemui Republika.co.id di Gedung Oase Kabinet Kerja, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2018).

Menurutbnya, isu SARA sangat mudah menimbulkan pertentangan di antara umat beragama di Indonesia. Namun, kata dia, jika Joshua dan Ge sudah meminta maaf kepada publik seharusnya semua pihak bisa memaafkan.

"Hal itu sangat mudah menimbulkan pertentangan di antara kita. Namun, jika hal tersebut sudah terjadi apalagi yang bersangkutan sudah minta maaf dan masalahnya tidak terlalu besar," ucapnya.

Dia sebenarnya lebih melihat kasus dugaan pelecehan agama itu dari sosok yang mengungkapkannya. Jika yang mengungkapkan itu pejabat publik, maka sudah sepatutnya diproses hukum. Karena, pernyataan pajabat publik memiliki posisi yang bisa berdampak lebih luas.

"Kalau saya membedakannya dengan pejabat publik. Namun, jika bukan pejabat publik mungkin tidak disengaja, sebaiknya dimaafkan saja," kata Mantan Ketum MUI ini.

Kendati demikian, menurut dia, jika ada beberapa pihak yang ingin melaporkannya ke polisi maka hal itu juga sah-sah saja dilakukan. Meskipun ada undang-undang kebebasan berekspresi,  ada batas-batasnya juga.

"Kalau terkait dilaporkan ke Polisi hal itu sah-sah saja, sebagai bagian dari hak. Tapi, sebaiknya jika kedua belah pihak sudah memaafkan seharusnya tidak perlu sampai dilanjutkan ke ranah hukum," kata Din.

Seperti diketahui, aksi panggung komika Joshua Suherman dan Ge Pamungkas banyak menyita perhatian baru-baru ini. Pasalnya, kedua komika ini diduga melecehkan agama Islam saat membawakan materi stand up comedy.

Lawakan tersebut membuat keduanya akan diproses hukum oleh Forum Umat Islam Bersatu (FUIB). Keduanya akan dilaporkan dengan dugaan pelanggaran Pasal 27 ayat 3 UU ITE dan Pasal 28 ayat (2) UU ITE. (*)

Opie Kumis: Mereka Kurang Cerdas Dalam Melawak

*Tanggapan Kasus Joshua & Ge Pamungkas

Komedian senior, Opie Kumis menanggapi video komika Ge Pamungkas dan selebriti Joshua Suherman saat sedang melakukan stand up comedy.


Sebagaimana diketahui, materi komedi Ge Pamungkas dan Joshua Suherman dianggap melecehkan agama Islam.

Opie mengatakan, sebagai komedian harus belajar agama agar melawak tidak mengandung SARA. Tentu, agar tidak mengundang hal-hal yang tak diinginkan.

"Sebagai komedian harus cerdas, belajar agama agar mengerti batas-batas yang harus kita lontarkan dalam lucuan. Kan, banyak teknik dalam melucu. Kalau menurut gue sih, emang orangnya yang kurang pinterlah, kurang cerdas," ujar Opie seperti dikutip dari viva.co.id, Senin (8/1/2018) lalu.

Dia melanjutkan, jika kedua selebriti itu tidak meminta maaf secara umum, dengan atau tanpa mengundang ulama, kariernya akan kandas di tengah jalan.

"Kalau terbukti, dia harus minta maaf dan kalau dia bertahan dengan kesombongannya, kariernya sudah selesai. Harusnya, dia datanglah ke salah seorang ulama yang bijak, kan banyak. Jelasin saja, apa yang sudah diperbuat. Ketemu dan bicarakan, kalau telah melawak dan ingin meminta maaf atas lawakan dia. Minta dampingi untuk mohon maaf kepada umat Islam. Gue rasa itu salah satu jalan keluar," pungkasnya. (*)

Lelucon Ge Pamungkas dan Joshua Suherman Dinilai Lecehkan Agama Islam

Komika Genrifinadi Pamungkas atau Ge Pamungkas menjadi perhatian publik. Sosok yang mulai terkenal setelah memenangi ajang kompetisi lawak tunggal ini menjadi buah bibir setelah lawakannya viral di media sosial.


Dalam video yang diunggah oleh akun Youtube Spokovir TV dengan judul Ge Pamungkas (Susah Sinyal Stand up Show), Ge Pamungkas gerah dengan penggunaan sosial media yang dipenuhi dengan politik dan agama.

"Twitter sekarang (isinya) udah politik dan agama. Udah enggak asik lagi," katanya dalam show itu.

Selanjutnya, ia juga sempat membahas masalah banjir Jakarta yang ditangani dua gubernur berbeda dan ditanggapi oleh warganet.

"Nih dulu Jakarta banjir. Apa coba netizen-netizen itu? Wih Jakarta banjir. Ini gara-gara Ahok ini. Ini adalah azab kita punya gubernur. Nih potong kuping gue. Nih sekarang udah banjir. Jakarta banjir, beda omongannya. Wah ini adalah cobaan dari Allah SWT," demikian isi materi lawakannya.

Tak sampai di situ, Ge Pamungkas kembali menyampaikan pernyataan dengan mengutip sebuah ayat yang disampaikan menggunakan gaya yang tak biasa.

"Ini cobaan. Sesungguhnya Allah akan memberikan cobaan kepada orang yang Dia cintai, cintailah apaan? Itu ada genangan cobaan. Setres gua," lanjutnya nada meninggi.

Kalimat tersebutlah yang kemudian menimbulkan kontroversi bagi warganet. Bahkan, video penampilan Ge Pamungkas tersebut telah diunggah beberapa kali oleh berbagai akun Youtube.

Belum hilang ingatan publik tentang mater lawakan berkonotasi agama tersebut, mantan penyanyi cilik Joshua Suherman pun membuat ulah. Joshua Suherman yang dulu dikenal dengan lagu "Diobok-obok" yang kini jadi komika stand-up comedy juga menghebohkan sosial media karena materi lawakannya pun dinilai melecehkan agama Islam.

Dalam video yang viral itu, Joshua mengatakan:

"Kenapa Anisa selalu lebih unggul dari Cherly (eks cherrybelle)? Padahal skil nyanyi tipis-tipis, cantik relatif. Tapi kenapa Annisa selalu lebih unggul? Ah.. Sekarang gw ketemu jawabannya. Makanya Che (Cherly), Islam," katanya.

Joshua Suherman lantas melanjutkan:

"Kalau mau menang jadi orang Islam. Karena di Indonesia ini, ada satu hal yang tidak bisa dikalahkan dengan susah payah apapun: Mayoritas."

Sontak lawakan itu dikecam luas netizen. Bahkan terkait materi lawakan itu, umat Islam yang diwakili Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) melaporkan dugaan tindakan kriminal pelecehan Agama yang dilakukan Joshua Suherman ke Bareskrim Mabes Polri pada Selasa (9/1/2018). (*)

Yesus Tidak Lahir di Kandang Domba, Tapi di Rumah Keluarga

Seorang pendeta sekaligus asisten profesor bernama Ian Paul dari Universitas Nottingham, Inggris, mengatakan Yesus tidak lahir di kandang domba seperti diyakini umat Nasrani selama ini. Menurut dia Yesus lahir di sebuah ruangan di dalam rumah.


Dia menyatakan pemahaman yang menyebutkan Yesus lahir di kandang domba itu berasal dari salah terjemahan dari teks bahasa Yunani. Hasil terjemahan yang buruk itu menyatakan Yesus lahir di tengah peternakan di sebuah kandang domba.

Koran the Daily Mail melaporkan, kata 'kataluma' dalam teks bahasa Yunani itu, kata dia, salah diterjemahkan menjadi 'rumah penginapan'. Padahal kata itu berarti 'ruang pribadi' atau 'pemondokan'.

Paul menjelaskan, kesalahan akibat terjemahan itu juga menyatakan Maryam dan Yusuf diusir dari sebuah rumah penginapan, padahal mereka berada di tengah sebuah kelompok keluarga di sebuah rumah. Tapi karena ruangan di rumah itu sudah penuh, mereka tidak berada di sana.

Menurut pemahaman Paul atas kisah Alkitab, Yusuf baru pulang dari Betlehem saat dia disambut oleh kerabatnya. Karena ruang kamar untuk tamu menginap sudah penuh, maka dia dan Maryam menginap di ruang utama keluarga, tempat Yesus kemudian lahir, kata Paul.

Dalam blognya Paul menulis, "Yusuf dan Maryam baru kembali dari Betlehem dan kamar tamu buat menginap di rumah kerabat mereka sudah penuh, kemungkinan karena kerabat lain sudah datang lebih dulu. Lalu Yusuf dan Maryam akhirnya menginap di ruang utama rumah itu, di sanalah Maryam melahirkan."

Paul meneruskan, tata letak rumah saat itu memiliki tempat memberi makanan bagi hewan ternak berupa palungan yang ditempatkan di pojokan ruang keluarga.

"Tempat paling mudah menaruh bayi baru lahir itu ya di atas tumpukan jerami, tempat biasa hewan ternak diberi makan. Pendapat yang menyatakan mereka ada di kandang domba, jauh dari orang, sendirian, dan terkucil itu secara bahasa keliru dan tidak masuk akal untuk konteks ketika itu."

(Sumber: Merdeka.com)