Jangan Biasakan Minta Oleh-oleh dari Teman yang Berpergian

Rasululah shallallahu alaihi wasallam melarang seorang muslim untuk meminta-minta dari orang lain, tanpa ada kebutuhan yang mendesak.


Karena perbuatan meminta-minta merupakan perbuatan menghinakan diri kepada makhluk dan menunjukkan adanya kecendrungan kepada dunia dan keinginan untuk memperbanyak harta.

Dan beliau shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa barangsiapa yang melakukan perbuatan meminta-minta yang hina ini, maka dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong dagingpun yang melekat di wajahnya. Ini sebagai balasan yang setimpal baginya kareka kurangnya rasa malu dia untuk meminta-minta kepada sesama makhluk.

"Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun." (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725).

"Sesungguhnya harta ini adalah lezat dan manis. Maka siapa yang menerimanya dengan hati yang baik, niscaya ia akan mendapat berkahnya. Namun, siapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, maka dia tidak akan mendapat berkahnya, dia bagaikan orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Al-Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1717).

Ringankanlah orang yang menjalani Safar karena safar adalah potongan dari azab.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Saw bersabda, "Berpergian (safar) itu adalah sebagian dari siksa. Ia menghalangi seseorang dari makan, minum dan tidurnya. Maka apabila seseorang telah selesai dari urusannya hendaklah ia segera pulang ke keluarganya." (HR Bukhari dan Muslim).

"Dikatakan bagian dari azab, karena safar akan meninggalkan segala yang dicintai." (Fathul Bari, Ibnu Hajar).

Bisa jadi yang dimaksud dicintai ini adalah keluarga yang ia cintai, rumah yang nyaman, ibadah yang teratur, dan lain-lain. Sedang setiap perjalanan tidak ada jaminan akan bisa kembali, lalu mengapa kita bebani dengan titipan dan amanah yang membebani.

Sekadar tips buat yang bersafar, untuk menjaga saudara kita dari meminta, jika berkelebihan rezeki akan lebih indah jika kita memberi sedikit oleh-oleh karena tangan di atas lebih mulia.

Dan tips untuk yang menerima oleh-oleh bersyukurlah atas setiap bentuk rezeki yang didapat karena dengan bersyukur kita akan semakin mendapat nikmat yang banyak. (*Oleh: Ernydar Irfan/Islampos.com)

Pelawak Mengolok-olok Islam di Zaman Nabi Ditangkap dan Terhina

Di era Nabi Muhammad, kabarnya ada seorang yang melakukan olok-olok terhadap agama Islam. Seseorang yang hidup di zaman Nabi ini mengolok-oloknya melalui candaan seperti zaman sekarang. Atau dapat disebutkan seperti kasus-kasus dugaan beberapa artis yang coba membawakan agama Islam dalam gurauannya.


Nasib pelawak di era Nabi itu akhirnya ditangkap dan kemudian dihukum mati karena perbuatannya.

"Dulu, ada seorang bernama Abu Sarah melakukan stand up comedy yang menghina Islam, Rasulullah dan Al Quran. Ia berlelucon dengan mengatakan Rasulullah, karena tak bisa baca tulis, berhasil ia bohongi. Mendengar itu kaum kafir Quraisy tertawa. Selain Abi Sarah, ada juga Abdullah ibn Hilal dan Miqyas ibn Shubahah. #ComicJamanOld yang melakukan stand up komedi menghina Islam demi untuk sekedar dianggap lucu dan ditertawakan. Saat Fathul Makkah, Rasulullah memerintahkan sahabat untuk menangkap ketiga orang #ComicJamanOld ini sekalipun mereka bersembunyi di dalam Ka'bah. Ketiga orang #ComicJamanOld itu pun dihukum mati," tulis Azzzam M Izzulhaq, di akunnya di Twitter, Rabu (10/1/2018).

Ia ingin memberitahukan bahwa dalam menyikapi lawakan terhadap Islam sesungguhnya mestilah serius.

Dalam menyikapi penghina Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya, Islam tidak main-main. Ulama salaf generasi tabi'in bahkan menulis kitab khusus "As Syaif al Maslul 'ala Man Sabb ar Rasul" (Pedang Terhunus kepada Penghina Rasul). Saya hanya mewanti-wanti, bahwa #ComicJamanOld yang melakukan stand up comedy yang demi mendapatkan gelak tawa penontonnya itu sudah ada sejak zaman Rasulullah Muhammad S.A.W.

Kabar buruknya, mereka mati dalam kondisi terhina.

Ustadz Solmed: Lawakan Joshua Suherman dan Ge Pamungkas Tak Enak Didengar

Joshua Suherman dan Ge Pamungkas hingga kini masih menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Keduanya dinilai telah melecehkan Islam lantaran memasukkan unsur agama ke dalam lawakan, membuat mereka dihujat dan dicap sebagai melakukan pelecehan.


Menanggapi derasnya tudingan dan anggapan masyarakat terhadap dua komika ini, Ustadz Solmed mengaku tak mau banyak berkomentar. Ia hanya menyatakan bahwa materi stand-up comedy yang dibawakan dua anak muda ini tidak tepat.

"Saya pikir saya tidak mau masuk ke ranah itu ya. Melecehkan atau tidak melecehkan buat saya memang kurang tepat pendapat mereka ini. Tidak tepat, karena seperti ada rasa yang gimana gitu," ungkap Ustadz Solmed yang dihubungi Okezone melalui sambungan telefon, Jumat (12/1/2018).

Tak hanya pelaporan kepihak berwajib dan julukan pelaku pelecehan agama yang didapatkan Joshua Suherman dan Ge Pamungkas. Keduanya bahkan telah dicap oleh warganet sebagai seorang penista agama.

Menanggapi hal tersebut, suami April Jasmine ini menyatakan bahwa tak hanya konten dari keduanya yang berpengaruh dalam tudingan masyarakat. Melainkan intonasi suara keduanya saat membawakan lawakan juga turut memiliki pengaruh besar dalam munculnya tudingan dari masyarakat.

"Kalimat-kalimat itu kadang menjadi kurang enak didengar, tidak etis didengar, ketika selain konten tapi intonasi juga, itu berpengaruh. Memang intonasi keduanya dalam menyampaikan itu terkesan melecehkan," tandasnya. (*)

Pesan Din Syamsuddin untuk Joshua dan Ge Pamungkas

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Prof Din Syamsuddin berpesan kepada semua publik figur di Indonesia untuk berhati-hati saat berbicara di depan publik.


Pesan ini juga disampaikan kepada dua komika Indonesia, Joshua Suherman dan Ge Pamungkas, yang saat ini sedang menghadapi masalah dugaan penghinaan agama.

"Saya berpesan kepada semua publik figur yang tampil di depan publik untuk berhati-hati terhadap persoalan yang sangat sensitif terutama dalam masalah SARA," ujarnya saat ditemui Republika.co.id di Gedung Oase Kabinet Kerja, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2018).

Menurutbnya, isu SARA sangat mudah menimbulkan pertentangan di antara umat beragama di Indonesia. Namun, kata dia, jika Joshua dan Ge sudah meminta maaf kepada publik seharusnya semua pihak bisa memaafkan.

"Hal itu sangat mudah menimbulkan pertentangan di antara kita. Namun, jika hal tersebut sudah terjadi apalagi yang bersangkutan sudah minta maaf dan masalahnya tidak terlalu besar," ucapnya.

Dia sebenarnya lebih melihat kasus dugaan pelecehan agama itu dari sosok yang mengungkapkannya. Jika yang mengungkapkan itu pejabat publik, maka sudah sepatutnya diproses hukum. Karena, pernyataan pajabat publik memiliki posisi yang bisa berdampak lebih luas.

"Kalau saya membedakannya dengan pejabat publik. Namun, jika bukan pejabat publik mungkin tidak disengaja, sebaiknya dimaafkan saja," kata Mantan Ketum MUI ini.

Kendati demikian, menurut dia, jika ada beberapa pihak yang ingin melaporkannya ke polisi maka hal itu juga sah-sah saja dilakukan. Meskipun ada undang-undang kebebasan berekspresi,  ada batas-batasnya juga.

"Kalau terkait dilaporkan ke Polisi hal itu sah-sah saja, sebagai bagian dari hak. Tapi, sebaiknya jika kedua belah pihak sudah memaafkan seharusnya tidak perlu sampai dilanjutkan ke ranah hukum," kata Din.

Seperti diketahui, aksi panggung komika Joshua Suherman dan Ge Pamungkas banyak menyita perhatian baru-baru ini. Pasalnya, kedua komika ini diduga melecehkan agama Islam saat membawakan materi stand up comedy.

Lawakan tersebut membuat keduanya akan diproses hukum oleh Forum Umat Islam Bersatu (FUIB). Keduanya akan dilaporkan dengan dugaan pelanggaran Pasal 27 ayat 3 UU ITE dan Pasal 28 ayat (2) UU ITE. (*)

Opie Kumis: Mereka Kurang Cerdas Dalam Melawak

*Tanggapan Kasus Joshua & Ge Pamungkas

Komedian senior, Opie Kumis menanggapi video komika Ge Pamungkas dan selebriti Joshua Suherman saat sedang melakukan stand up comedy.


Sebagaimana diketahui, materi komedi Ge Pamungkas dan Joshua Suherman dianggap melecehkan agama Islam.

Opie mengatakan, sebagai komedian harus belajar agama agar melawak tidak mengandung SARA. Tentu, agar tidak mengundang hal-hal yang tak diinginkan.

"Sebagai komedian harus cerdas, belajar agama agar mengerti batas-batas yang harus kita lontarkan dalam lucuan. Kan, banyak teknik dalam melucu. Kalau menurut gue sih, emang orangnya yang kurang pinterlah, kurang cerdas," ujar Opie seperti dikutip dari viva.co.id, Senin (8/1/2018) lalu.

Dia melanjutkan, jika kedua selebriti itu tidak meminta maaf secara umum, dengan atau tanpa mengundang ulama, kariernya akan kandas di tengah jalan.

"Kalau terbukti, dia harus minta maaf dan kalau dia bertahan dengan kesombongannya, kariernya sudah selesai. Harusnya, dia datanglah ke salah seorang ulama yang bijak, kan banyak. Jelasin saja, apa yang sudah diperbuat. Ketemu dan bicarakan, kalau telah melawak dan ingin meminta maaf atas lawakan dia. Minta dampingi untuk mohon maaf kepada umat Islam. Gue rasa itu salah satu jalan keluar," pungkasnya. (*)

Lelucon Ge Pamungkas dan Joshua Suherman Dinilai Lecehkan Agama Islam

Komika Genrifinadi Pamungkas atau Ge Pamungkas menjadi perhatian publik. Sosok yang mulai terkenal setelah memenangi ajang kompetisi lawak tunggal ini menjadi buah bibir setelah lawakannya viral di media sosial.


Dalam video yang diunggah oleh akun Youtube Spokovir TV dengan judul Ge Pamungkas (Susah Sinyal Stand up Show), Ge Pamungkas gerah dengan penggunaan sosial media yang dipenuhi dengan politik dan agama.

"Twitter sekarang (isinya) udah politik dan agama. Udah enggak asik lagi," katanya dalam show itu.

Selanjutnya, ia juga sempat membahas masalah banjir Jakarta yang ditangani dua gubernur berbeda dan ditanggapi oleh warganet.

"Nih dulu Jakarta banjir. Apa coba netizen-netizen itu? Wih Jakarta banjir. Ini gara-gara Ahok ini. Ini adalah azab kita punya gubernur. Nih potong kuping gue. Nih sekarang udah banjir. Jakarta banjir, beda omongannya. Wah ini adalah cobaan dari Allah SWT," demikian isi materi lawakannya.

Tak sampai di situ, Ge Pamungkas kembali menyampaikan pernyataan dengan mengutip sebuah ayat yang disampaikan menggunakan gaya yang tak biasa.

"Ini cobaan. Sesungguhnya Allah akan memberikan cobaan kepada orang yang Dia cintai, cintailah apaan? Itu ada genangan cobaan. Setres gua," lanjutnya nada meninggi.

Kalimat tersebutlah yang kemudian menimbulkan kontroversi bagi warganet. Bahkan, video penampilan Ge Pamungkas tersebut telah diunggah beberapa kali oleh berbagai akun Youtube.

Belum hilang ingatan publik tentang mater lawakan berkonotasi agama tersebut, mantan penyanyi cilik Joshua Suherman pun membuat ulah. Joshua Suherman yang dulu dikenal dengan lagu "Diobok-obok" yang kini jadi komika stand-up comedy juga menghebohkan sosial media karena materi lawakannya pun dinilai melecehkan agama Islam.

Dalam video yang viral itu, Joshua mengatakan:

"Kenapa Anisa selalu lebih unggul dari Cherly (eks cherrybelle)? Padahal skil nyanyi tipis-tipis, cantik relatif. Tapi kenapa Annisa selalu lebih unggul? Ah.. Sekarang gw ketemu jawabannya. Makanya Che (Cherly), Islam," katanya.

Joshua Suherman lantas melanjutkan:

"Kalau mau menang jadi orang Islam. Karena di Indonesia ini, ada satu hal yang tidak bisa dikalahkan dengan susah payah apapun: Mayoritas."

Sontak lawakan itu dikecam luas netizen. Bahkan terkait materi lawakan itu, umat Islam yang diwakili Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) melaporkan dugaan tindakan kriminal pelecehan Agama yang dilakukan Joshua Suherman ke Bareskrim Mabes Polri pada Selasa (9/1/2018). (*)

Yesus Tidak Lahir di Kandang Domba, Tapi di Rumah Keluarga

Seorang pendeta sekaligus asisten profesor bernama Ian Paul dari Universitas Nottingham, Inggris, mengatakan Yesus tidak lahir di kandang domba seperti diyakini umat Nasrani selama ini. Menurut dia Yesus lahir di sebuah ruangan di dalam rumah.


Dia menyatakan pemahaman yang menyebutkan Yesus lahir di kandang domba itu berasal dari salah terjemahan dari teks bahasa Yunani. Hasil terjemahan yang buruk itu menyatakan Yesus lahir di tengah peternakan di sebuah kandang domba.

Koran the Daily Mail melaporkan, kata 'kataluma' dalam teks bahasa Yunani itu, kata dia, salah diterjemahkan menjadi 'rumah penginapan'. Padahal kata itu berarti 'ruang pribadi' atau 'pemondokan'.

Paul menjelaskan, kesalahan akibat terjemahan itu juga menyatakan Maryam dan Yusuf diusir dari sebuah rumah penginapan, padahal mereka berada di tengah sebuah kelompok keluarga di sebuah rumah. Tapi karena ruangan di rumah itu sudah penuh, mereka tidak berada di sana.

Menurut pemahaman Paul atas kisah Alkitab, Yusuf baru pulang dari Betlehem saat dia disambut oleh kerabatnya. Karena ruang kamar untuk tamu menginap sudah penuh, maka dia dan Maryam menginap di ruang utama keluarga, tempat Yesus kemudian lahir, kata Paul.

Dalam blognya Paul menulis, "Yusuf dan Maryam baru kembali dari Betlehem dan kamar tamu buat menginap di rumah kerabat mereka sudah penuh, kemungkinan karena kerabat lain sudah datang lebih dulu. Lalu Yusuf dan Maryam akhirnya menginap di ruang utama rumah itu, di sanalah Maryam melahirkan."

Paul meneruskan, tata letak rumah saat itu memiliki tempat memberi makanan bagi hewan ternak berupa palungan yang ditempatkan di pojokan ruang keluarga.

"Tempat paling mudah menaruh bayi baru lahir itu ya di atas tumpukan jerami, tempat biasa hewan ternak diberi makan. Pendapat yang menyatakan mereka ada di kandang domba, jauh dari orang, sendirian, dan terkucil itu secara bahasa keliru dan tidak masuk akal untuk konteks ketika itu."

(Sumber: Merdeka.com)

Perbedaan Kelahiran Yesus atau Nabi Isa dalam Al Quran dan Kepercayaan Nasrani

*Ditinjau dalam Ilmu Sejarah dan Ilmu Astronomi

Nabi Isa dalam pandangan Islam merupakan salah satu Nabi di antara nabi-nabi Allah lainnya. Beliau juga merupakan salah satu Nabi dalam ‘ulul azmi.


Terkait dengan proses kelahiran Nabi Isa, Al Quran memiliki informasi tersendiri secara mandiri yang secara diametral sangat berbeda dengan keterangan dari Perjanjian Baru, kitab suci umat Kristen.

Proses kelahiran yang tidak sama ini, harus disadari sejak awal, juga akan melahirkan konsepsi yang berbeda pula. Al Quran memberikan informasi bahwa Isa alaihi as salam dilahirkan oleh ibundanya, Maryam, dibawah pohon Kurma yang sedang masak buahnya. Informasi ini akan dapat digunakan untuk merekonstruksi waktu kelahiran berdasarkan versi Islam.

Berdasarkan analisa sejarah dan ilmu astronomi ternyata kelahiran Yesus atau nabi Isa tidak ada yang bisa memasulikan waktunya secara tepat. Berdasarkan kajian itu mustahil lahir pada bulan Desember tetapi lahir pada musim semi sekitar bulan April atau Mei.

Kelahiran Nabi Isa atau Yesus Berdasarkan Al Quran: 

(23). Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya Aku mati sebelum ini, dan Aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan"

(24). Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu Telah menjadikan anak sungai di bawahmu

(25). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,"

Dengan asumsi bahwa Nabi Isa lahir di wilayah Betlehem, Palestina, maka kelahiran tersebut telah terjadi pada musim kurma sedang masak. Pohon kurma termasuk pohon musiman dan kematangan buah kurma biasanya memang tidak bisa serentak pada waktu yang sama. Walaupun tidak masak bersamaan kurma di Palestina, secara umum, telah mengalami puncak kematangan pada musim panas.

Keterangan yang lebih jelas adalah kurma tidak mungkin masak pada musim dingin atau penghujan. Berdasarkan hal ini maka telah jelas, Al Quran mengisyaratkan bahwa kelahiran Isa terjadi pada musim panas. Waktu tepat untuk kematangan kurma itu sendiri adalah antara bulan Maret sampai Juni.

Jadi dalam interval kedua bulan itulah Nabi Isa telah dilahirkan oleh Maryam ke dunia. Penggunaan interval waktu dalam kedua bulan tersebut telah mempertimbangkan kematangan kurma yang tidak serempak. Namun masih berada dalam satu musim panas.

Berdasarkan Kepercayaan Nasrani

Sementara umat Kristen telah meyakini bahwa Yesus lahir pada 25 Desember, setiap tahunnya hari tersebut diperingati sebagi hari Natal.  Pada bulan Desember tersebut, matahari berada pada titik balik musim dingin. Dengan kata lain Betlehem sedang mengalami musim dingin. Sedangkan kurma tidak mungkin masak pada musim dingin tersebut.

Dengan demikian, semakin jelas sudah bahwa konsep kelahiran Nabi Isa dalam Al Quran dan keyakinan umat Kristiani tentang hari Natal adalah dua hal yang berbeda.

Edward Gibbon, seorang sejarawan, mengungkapkan bahwa perayaan tersebut diadopsi dari perayaan kelahiran Sol yang diselenggarakan oleh penganut paganisme di Romawi, sebagi berikut:

"The Roman Christians, Ignorant of his (Christ’s) birth, fixed the solemn festival to 25 December, the Brumalia or winter solstice when the pagans annually the birth of Sol" (Orang Kristen Romawi yang tidak mengetahui kelahirannya (Kristus), menentukan perayaan Natal pada 25 Desember, saat Brumalia atau titik balik matahari di musim dingin, ketika kaum pagan setiap tahun merayakan kelahiran Sol). 

Tetapi kita dapat melakukan educated guess mengenai musim (season) ketika beliau lahir.

Injil Lukas 2:8 mencatat suasana malam kelahiran Isa Al-Masih sebagai berikut:

"Et pastores erant in regione eadem vigilantes et custodientes vigilias noctis super gregem suum (Dan para gembala di padang rumput pada daerah itu sedang menjaga dan mengawasi pada waktu malam kawanan ternak mereka)".

Ketika berkunjung ke Jerusalem, saya pernah bertanya kepada orang pribumi di sana: kira-kira pada bulan apa para gembala tinggal di padang rumput sampai malam hari? Dia menjawab bulan April atau bulan Mei pada musim semi (spring season).

Berdasarkan Sejarah

Ternyata tidak ada catatan sama sekali mengenai peringatan kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s. (Jesus = Isa, Kristus, Al-Masih) sampai abad ke-4 Masehi.  Absennya perayaan Natal sebelum itu menunjukkan bahwa mungkin tidak ada yang tahu secara pasti kapan utusan Allah yang mulia itu lahir. Kitab-kitab Injil yang empat tidak menyebutkan tahun kelahiran beliau, apalagi tanggal dan bulan yang pasti.

Clement (150-215), seorang uskup di Iskandariah, menetapkan tanggal 18 November. Sebuah dokumen dari Afrika Utara tahun 243, berjudul De Pascha Computus, menempatkan kelahiran Jesus Kristus pada tanggal 28 Maret di awal musim semi.

Umat Nasrani pada masa-masa awal tidak pernah tertarik untuk merayakan Natal, sebab mereka memandang suatu perayaan ulang tahun sebagai kebiasaan orang-orang kafir. Seorang tokoh gereja abad ke-3, Origenes, bahkan menyatakan bahwa adalah merupakan suatu dosa jika ada yang berusaha mencari-cari tanggal kelahiran Jesus, sebab hal itu berarti menyamakan Kristus dengan seorang Fir’aun!

Injil yang paling tua, Injil Markus, yang ditulis sekitar tahun 50, memulai uraian dari kisah pembaptisan Jesus Kristus yang sudah dewasa oleh Johannes Sang Pemandi (Nabi Yahya bin Zakaria a.s.). Fakta ini merupakan indikasi bahwa umat Nasrani pada masa-masa awal memang tidak memiliki interes terhadap masalah kelahiran Jesus. Baru pada Injil Matius dan Injil Lukas, yang ditulis dua sampai empat dasawarsa kemudian, kita memperoleh kisah lahirnya Nabi agung yang merupakan putra suci Siti Maryam r.a. itu.

Informasi paling awal mengenai perayaan Natal tercantum dalam Philocalian calendar, suatu dokumen Romawi tahun 354, yang menyatakan 25 Desember sebagai hari kelahiran Jesus Kristus. Dijelaskan dalam dokumen tersebut bahwa tanggal itu ditetapkan oleh Uskup Liberius dari Roma, dan kemudian diresmikan oleh Gereja.

Pada mulanya banyak kalangan intern kepausan yang tidak setuju dengan tanggal itu, sebab 25 Desember jatuh pada musim dingin, di mana hampir mustahil ada penggembala di padang rumput Palestina pada malam hari seperti diberitakan Injil!

Tetapi Gereja sangat berkepentingan dengan tanggal 25 Desember, sebab penetapan tanggal itu diharapkan efektif untuk memikat hati orang-orang kafir Romawi yang mulai tertarik kepada ajaran Nasrani setelah Kaisar Konstantinus (bertahta 306-337) memeluk agama tersebut. 25 Desember adalah saat Natalis Solis Invicti (“Kelahiran Dewa Matahari Yang Tak Terkalahkan”), yang dirayakan oleh orang-orang Romawi dalam bentuk Festival Saturnalia, untuk menghormati kelahiran Mithra, Dewa Matahari mereka, yang identik dengan Helios, dewa matahari Yunani. Orang-orang Romawi memang berduyun-duyun memeluk agama Nasrani, tetapi Festival Saturnalia 25 Desember dilestarikan dalam bentuk perayaan Natal.

Ketika agama Nasrani tersebar di kawasan Eropa Barat, perayaan Natal dilengkapi dengan “pohon Natal” (Christmas tree) yang dipuja oleh bangsa-bangsa kafir Jerman dan Skandinavia. Bangsa Inggris baru mengenal pohon Natal ketika Ratu Victoria menikahi Pangeran Albert, yang membawa tradisi itu ke Inggris dari daerah asalnya Jerman pada tahun 1840.

Bagaimanakah dengan Santa Claus? 

Sudah tentu dia tidak pernah tinggal di Kutub Utara dengan rusa-rusanya seperti mitos yang beredar di kalangan anak-anak umat Nasrani. Dia adalah Saint Nicholas, uskup abad ke-4 di Nicaea (sekarang Iznik, masuk wilayah Turki) yang gemar membagikan hadiah kepada anak-anak. Tradisi ini populer di Negeri Belanda dengan sebutan San Nicolaas.

Ketika orang-orang Belanda berimigrasi ke Amerika—kota New York sekarang adalah bikinan Belanda, dulu namanya New Amsterdam—mereka memperkenalkan tradisi bagi-bagi hadiah dari San Nicolaas ini, yang oleh lidah anak-anak Amerika diucapkan Santa Claus. Akhirnya pada tahun 1863, kartunis terkenal Thomas Nast menggubah lukisan Santa Claus dengan berpakaian merah dan berjanggut putih, lengkap dengan ketawa ‘ho-ho-ho’nya, yang populer sampai hari ini.

Berdasarkan Ilmu Astronomi

Seorang astronom Australia, David Reneke memprediksi kelahiran Yesus Kristus bukan jatuh pada 25 Desember, seperti yang dirayakan umat Kristiani sedunia seperti sekarang ini. Sebagimana dilansir Telegraph, Reneke mengungkapkan jika ditilik dari peristiwa ‘bintang terang natal’ di Betlehem 2000 tahun silam, seharusnya Natal jatuh pada tanggal 17 Juni.

Bintang terang natal itulah yang dikisahkan dalam Perjanjian Baru menuntun tiga orang majus pada bayi Yesus untuk mempersembahkan, mur emas, dan kemenyan. Penelitian yang dilakukan oleh astronom mengasumsikan, bintang terang tersebut merupakan kombinasi planet Venus dan Jupiter. Ketika itu, kedua planet berada pada posisi terdekat dan menjadikannya lebih bersinar terang dari biasanya.

Dengan demikian telah diketahui bersama bahwa tidak ada tanggal paling pasti tentang kelahiran Nabi Isa. Perayaan Natal per 25 Desember hanya merupakan tradisi Kristen selama berabad-abad yang diadopsi dari perayaan kaum penyembah berhala. Sendainya saja Nabi Isa menginginkan hari lahirnya dirayakan maka tentu salah satu ajaran yang disampaikannya adalah tentang fakta hari kelahirannya terkait waktu yang tepat.

Kenyataannya hal itu tidak disampaikannya dan hal ini menjelaskan hakikat bahwa perayaan kelahiran Nabi Isa memang tidak berasal dari ajarannya. Namun merupakan produk dari perkembangan budaya selama berabad-abad dalam kekristenan. Pada bagian terakhir ini, sekaligus perlu ditegaskan bahwa terkait dengan masalah hubungan Islam dengan agama-agama lain beserta klaim-klaim kebenarannya, secara teologis, sudah selesai, settled, dan final. Allah sendiri yang telah menuntaskannnya sejak awal melalui Al Quran.

Islam memandang perbedaan dan keragaman agama sebagai hakikat ontologis dan sunatullah dan oleh karenanya genuine. Oleh karenanyalah maka kaum muslimin hendaknya hanya berpegang kepada kitabullah dan sunah Nabiyang menjadi sumber-sumber hukum Islam.


(Sumber: Islam Islami: Perbedaan Kelahiran Yesus atau Nabi Isa Dalam Al Quran dan Kepercayaan Nasrani Ditinjau Dalam Ilmu Sejarah dan Ilmu Astronomi
https://islamislami.com/2017/06/29/perbedaan-kelahiran-yesus-atau-nabi-isa-dalam-al-quran-dan-kepercayaan-nasrani-dipandang-dalam-ilmu-astronomi/)

Kisah Kota Sodom dan Gomorah: Saat Azab Allah Basmi Kaum Pendosa

*Kisah Kaum yang Diazab Allah 

Hidup gratis sudah difirmankan Allah SWT dalam Al-Quran, Injil (Bible), Taurat, dan Zabur. Namun, saat manusia sudah berbuat dzalim dan pengingkaran atas kekuasaan dan peraturan hidup yang digariskan Allah untuk membedakan antara manusia dan hewan, maka adzab Allah dipastikan akan datang secara tiba-tiba sebagaimana dalam QS Al-Isra’ ayat 16 dan 58, serta Kitab Kejadian dalam Injil.


Semua itu pasti terjadi, karena sifat adil milik Allah, sehingga kejahatan dan kebaikan sebesar atom pun pasti akan mendapatkan balasan.

Malam itu langit terlihat gelap tanpa sekelip bintang pun, sementara angin yang berhembus kuat mencengkeram kulit dan tulang. Kendati demikian, terlihat banyak laki-laki dewasa dengan mata nanar dan hidung mendengus berjalan berkelompok ke rumah Nabi Luth. Saat sampai, mereka tidak langsung mengetuk daun pintu, tapi memencar mengepung sekeliling rumah. Sehingga tak ada sebuah titik lowong pun untuk meloloskan diri.

Kaum Nabi Luth itu datang berkelompok dan berebutan masuk ke rumah Nabi Luth dengan maksud untuk melakukan perbuatan keji pada tiga pria tampan nan rupawan yang menjadi tamunya. Mereka berkumpul sambil berdesakan di dekat pintu rumahnya sambil memanggil Nabi Luth, dengan suara keras meminta Nabi Luth menyerahkan kedua tamunya itu kepada mereka. Masing-masing dari mereka berharap dapat bersenang-senang dan menyalurkan syahwatnya kepada dua tamu Nabi Luth yang tampan.

Namun, Nabi Luth menghalangi mereka masuk ke rumahnya dan menghalangi mereka mengganggu para tamunya, ia berkata kepada mereka; "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu membuatku malu. Dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina." (QS. Al Hijr: 68-69)

Serbuan kaum Luth itu, sesungguhnya sejak awal sudah menjadi kekhawatiran Nabi Luth. Saat tiga pemuda berwajah rupawan itu bersilahturahim ke rumahnya. Nabi Luth langsung mengkhawatirkan nasib mereka. Karena itu, Nabi Luth sempat marah terhadap istrinya yang mengabarkan kedatangan dua pemuda rupawan yang menjadi tamu rumahnya pada kaum Luth.

Kendati demikian, Nabi Luth masih bisa bersabar dan mengingatkan kaumnya yang datang dan memaksa Luth menyerahkan tiga tamunya untuk dijadihkan sarana penyaluran syahwat. Nabi Luth mengatakan, bahwa Allah Subhnahu wa Ta’ala telah menciptakan wanita untuk mereka agar kaumnya dapat menyalurkan syahwatnya, akan tetapi kaum Luth tetap ingin masuk ke rumahnya.

Ketika itu, Nabi Luth tidak mendapati seorang yang berakal dari kalangan mereka untuk menerangkan kesalahan mereka. Kondisi itu membuat Nabi Luth merasakan kelemahan menghadapi mereka, seperti yang tersurat dalam QS. Huud: 80, Luth pun berkata; "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)."

Mendengar keluhan ketidakberdayaan Nabi Luth, maka tiga tamu itu membuka diri. Memberitahukan siapa mereka sesungguhnya. Kedua tamu menegaskan, bahwa mereka bukan manusia. Mereka adalah sepasang Malaikat utusan Allah SWT, yang datang untuk menimpakan azab kepada kaumnya Nabi Luth yang fasik itu.

Sebagaimana tersurat dalam QS. Al Hijr: 62-66, para utusan menjawab; "Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang yang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu."

"Dan Kami telah wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh."

Tidak berapa lama, kaum Luth mendobrak pintu rumahnya dan menemui para Malaikat itu, lalu satu Malaikat membuat buta mata mereka dan mereka kembali dalam keadaan sempoyongan di antara dinding-dinding rumah sebagaimana dijelaskan pada QS. Al Qamar: 37-38; "Dan sesungguhnya mereka membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal."

Dengan hati yang pedih, pada tengah malam itu Nabi Luth dan keluarganya pergi meninggalkan negeri Sadum (Kota Sodom). Setelah mereka pergi meninggalkannya dan tiba waktu subuh, maka Allah mengirimkan sebuah azab yang pedih pada negeri itu.

Saat itu, negeri tersebut bergoncang dengan goncangan yang keras, satu Malaikat mencabut negeri itu dengan ujung sayapnya dan mengangkat ke atas langit, lalu dibalikkan negeri itu. Bagian atas menjadi bawah dan bagian bawah menjadi atas. Selain itu, negeri itu dihujani dengan batu yang panas secara bertubi-tubi. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Huud: 82-83; "Maka ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,–Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim."

Ketaatan dan keiklasan Nabi Luth dalam beribadah pada Allah SWT itulah, yang membuat Sang Nabi dan keluarganya selain istrinya yang fasik terselamatkan dari azab yang diturunkan di negeri Sodom. Sebaliknya istri Nabi Luth harus terkena azab menjadi sebuah tiang garam. Maka Nabi Luth dan keluarganya menjadi teladan baik dalam hal kesucian dan kebersihan diri, sementara kaumnya menjadi teladan buruk dan pelajaran bagi generasi yang datang setelahnya.

AllahSubhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Adz Dzaariyat: 37; "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih."

Danau Luth

Danau Luth menjadi bukti azab Allah SWT pada kaum Nabi Luth. Di dasar danau terdapat tumpukan garam, yang berasal dari tumpukan mayat warga kota Sodom dan Gomorah.

Sosok Nabi Luth hidup semasa dengan Nabi Ibrahim. Luth diutus sebagai rasul atas salah satu kaum yang sebagaimana diutarakan dalam Al Quran, mempraktikkan perilaku menyimpang yang belum dikenal dunia saat itu, yaitu Sodomi (homoseksual). Ketika Luth menyeru mereka untuk menghentikan penyimpangan tersebut dan menyampaikan peringatan Allah, mereka mengabaikannya, mengingkari kenabiannya, dan meneruskan penyimpangan mereka. Pada akhirnya kaum ini dimusnahkan dengan bencana yang mengerikan.

Kota kediaman Luth, dalam Perjanjian Lama disebut sebagai kota Sodom. Karena berada di utara Laut Merah, kaum ini diketahui telah dihancurkan sebagaimana termaktub dalam Al Quran. Kajian arkeologis mengungkapkan bahwa kota tersebut berada di wilayah Laut Mati yang terbentang memanjang di antara perbatasan Palestina-Yordania.

Dalam berbagai penelitian yang dilakukan, peristiwa atau lokasi kejadian diazabnya umat Luth AS ini adalah di Kota Sodom, di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Laut Mati atau di danau Luth yang terletak di perbatasan antara Israel dan Yordania. Keberadaan umat Nabi Luth di sekitar Laut Mati ini seperti dikutip dari harunyahya.com, diperkuat dengan ulasan National Geographic edisi Desember 1957.

"Gunung Sodom, tanah gersang dan tandus muncul secara tajam di atas Laut Mati. Belum pernah seorang pun menemukan Kota Sodom dan Gomorah yang dihancurkan, namum para akademisi percaya bahwa mereka berada di Lembah Siddim yang melintang dari tebing terjal ini. Kemungkinan air bah dari Laut Mati menelan mereka setelah gempa bumi."

Asumsi ilmiah itu sesuai dengan ayat ke-82 Surat Huud dengan jelas menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Luth; "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi." Demikian pula yang tersurat dalam Injil Kitab Genesis, disebutkan; "Dikarenakan oleh dosa-dosa penduduknya, maka Sodom, Gomorrah, Admah dan Zeboim dihancurkan oleh sulfur dan api dari Tuhan." (Kejadian 19: 24-25).

Pernyataan 'menjungkirbalikkan (kota)' bermakna kawasan tersebut diluluhlantakkan oleh gempa bumi yang dahsyat. Sesuai dengan ini, Danau Luth, tempat penghancuran terjadi, mengandung bukti 'nyata' dari bencana tersebut.

Setelah sekian lama tidak ada kabarnya tentang keberadaan umat Nabi Luth, bahwa pada tahun 1967 ahli purbakala lainnya, Paul Lapp dan Thomas Schaub, melakukan penggalian kembali di sekitar Laut Mati. Dan kemudian, penggalian diteruskan oleh Werner Keller. Menurut arkeolog asal Jerman itu, kejadian yang menimpa kaum Luth seperti disebutkan dalam Al Quran dan Injil, berdasarkan perkiraan terjadi sekitar 1.800 SM. Kota Sodom dan Gomorah benar-benar berada di lembah Siddim, yang merupakan daerah terjauh dan terendah dari Danau Luth, dan bahwa pernah terdapat situs yang besar dan dihuni di daerah itu.

Bayangan Hutan

Karakteristik paling menarik dari struktur Danau Luth, adalah bukti yang menunjukkan bagaimana peristiwa bencana yang diceritakan dalam Al Quran terjadi. Pada pantai timur Laut Mati, semenanjung Al Lisan menjulur seperti lidah jauh ke dalam air. Al Lisan berarti 'lidah' dalam bahasa Arab. Dari daratan tidak tampak, bahwa tanah berguguran di bawah permukaan air pada sudut yang sangat luar biasa, memisahkan laut menjadi dua bagian. Di sebelah kanan semenanjung, lereng menghunjam tajam ke kedalaman 1200 kaki. Di sebelah kiri semenanjung, secara luar biasa kedalaman air tetap dangkal. Penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir menunjukkan kedalamannya hanya berkisar antara 50-60 kaki. Bagian dangkal yang luar biasa dari Laut Mati ini, mulai dari semenanjung Al Lisan sampai ke ujung paling Selatan, dulunya merupakan Lembah Siddim.

Suatu ketika, daerah ini dapat dilintasi dengan berjalan kaki. Namun sekarang, Lembah Siddim, tempat Sodom dan Gomorah dahulunya berada, ditutupi oleh permukaan datar bagian Laut Mati yang rendah. Keruntuhan dasar danau akibat bencana alam mengerikan yang terjadi di awal alaf kedua Sebelum Masehi itu, mengakibatkan air garam dari utara mengalir ke rongga yang baru terbentuk ini dan memenuhi lembah sungai dengan air asin.

Jika seseorang bersampan melintasi Danau Luth ke titik paling utara dan matahari sedang bersinar pada arah yang tepat, maka ia akan melihat sesuatu yang sangat menakjubkan. Pada jarak tertentu dari pantai dan jelas terlihat di bawah permukaan air, tampaklah gambaran bentuk hutan yang diawetkan oleh kandungan garam Laut Mati yang sangat tinggi. Batang dan akar di bawah air yang berwarna hijau berkilauan tampak sangat kuno. Lembah Siddim, pepohonan ini dahulu kala bermekaran daunnya menutupi batang dan ranting merupakan salah satu tempat terindah di daerah ini.

Aspek mekanis dari bencana yang menimpa kaum Luth diungkapkan oleh para peneliti geologi. Mereka mengungkapkan, gempa bumi yang menghancurkan kaum Luth terjadi sebagai akibat rekahan yang sangat panjang di dalam kerak bumi (garis patahan) sepanjang 190 km, yang membentuk dasar sungai Sheri’at. Sungai Sheri’at membuat air terjun sepanjang 180 meter keseluruhannya. Kedua hal ini dan fakta, bahwa Danau Luth berada 400 meter di bawah permukaan laut adalah dua bukti penting yang menunjukkan bahwa peristiwa geologis yang sangat hebat pernah terjadi di sini.

Struktur Sungai Sheri’at dan Danau Luth yang menarik hanya merupakan sebagian kecil dari rekahan atau patahan yang melintas dari kawasan bumi tersebut. Kondisi dan panjang rekahan ini baru ditemukan akhir-akhir ini. Rekahan tersebut berawal dari tepian Gunung Taurus, memanjang ke pantai selatan Danau Luth dan berlanjut melewati Gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan terus melintasi Laut Merah, dan berakhir di Afrika. Di sepanjangnya teramati kegiatan-kegiatan vulkanis yang kuat. Batuan basal hitam dan lava terdapat di Gunung Galilea di Palestina, daerah dataran tinggi Yordan, Teluk Aqaba, dan daerah sekitarnya.

Fenomena ini diungkapkan oleh Haigh dan Madabushi (2002) dari Cambridge University dalam 'Dynamic Centrifuge Modelling of the Destruction of Sodom and Gomorrah'. Dalam eksperimen di laboratorium, mereka mengambil membuat pemodelan mini kota pada zaman perunggu, termasuk lapisan tanahnya sesuai dengan kondisi geologi di sekitar Laut Mati. Hasilnya, ketika model diguncang gempa dengan skala tertentu, likuifaksi memang terjadi, dan bangunan teggelam masuk ke dalam tanah.

Hal inilah yang mungkin menyebabkan mengapa bukti arkeologi Sodom dan Gomorrah sangat sulit ditemukan. Diperkirakan bahwa sekarang kota ini telah berada di bawah dasar Laut Mati. Olehnya itu John Whitaker (1997) merekomendasi untuk diadakannya penyelidikan bawah laut untuk menelusuri puing-puing Sodom dan Gomorrah.

Selain itu, ada faktor lain yang menyebabkan dahsyatnya proses kehancuran Sodom dan Gomorrah. Adanya gempa, juga memungkinkan terjadinya rekahan-rekahan pada deposit asphalt yang memang banyak terdapat di lokasi tersebut. Beberapa ahli termasuk Harris dan Beardow (1995) mengatakan bahwa kandungan gas dengan tekanan tinggi dari dalam rekahan, menyembur dan membakar deposit asphalt. Tekanan tinggi ini akhirnya melontarkan asphalt terbakar itu keluar, termasuk menghujani Sodom dan Gomorrah.

Jadi dapat dibayangkan, begitu besarnya proses kehancuran Sodom dan Gomorrah. Kombinasi antara gempa, likuifaksi, dan hujan asphalt-sulfur yang terbakar, yang meluluhlantakkan kota dan menghancurkan penduduknya sehancur-hancurnya. Terkecuali, Nabi Luth AS, atas petunjuk Allah SWT mengevakuasi anak-anaknya keluar dari 'The Sin Cities' itu.

Subhanallah! Mudah-mudahan ini menjadi petunjuk bagi orang yang beriman. 
(dari: @primavardhana)

Tentang Permadi Arya Si Abu Janda yang Bikin Trenyuh

Permadi Arya atau di media sosial dia mempolerkan diri dengan nama Ustadz Abu Janda Al Boliwudi, menjadi pembicaraan netizen di media sosial usai tampil acara di ILC pada 5 Desember lalu.


Hampir semua netizen 'menyerang' orang yang ternyata bukan ustadz itu, di antaranya ditulis oleh Zeng Wei Jian, yang dikutip dari Swamedium ini:

Kumisnya melintang. Suaranya keras. Sengit. Mata melotot. Mendelik. Celingak-celinguk. Muka seram. Intonasi tinggi. Otak ditaro dalam laci. Ditinggal di rumah. Kuncinya ilang. Gara-gara penampilan Abu Janda di ILC, Pro Ahok dapet stempel “Go-Block”.

Abu Janda Al Boliwudi bukan ustad. Banyak tingkah di sosmed. Sternya Ahok. Tukang bully para ulama. Anak ini punya stereotype sebagai penderita attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD) alias hiperaktif.

Sok tenar, ngetag dan dikomplen Menteri Susi Pujiastuti. Pedenya naik setelah Cryil Rahul Hakeem ngancem usir Felix Siauw dari negaranya. 

Abu Janda merusuh di tipi. Bikin gaduh cyber. Jutaan caci-maki, hinaan, omelan, damnation, meim, GIF menghiasi beranda. Abu Janda is the super star. Sanggup nutup amanat makan keong sawah.

Dengan peci miring, Abu Janda ingin tampil sebagai Standup Motherf**k*r. Jampang. Jawara. Bringas.

Ada 9259 orang janda di Malang. Bukan itu yang dimasalahin netizen. Dua hari berturut, Abu Janda dimaki dengan frase pasang muka badak, belaga gila, ayam sayur, Antisosial Disorder, dan sebagainya.

Abu Janda jadi korban cyberbullies.

Menurut Wise geek, bully victims ngga punya social skills. Mereka punya masalah maintaining positive friendships. Berasal dari violent environment.

Namanya disingkat jadi AZAB, Abu Sendal, Orang Gila dan lain-lain. Ngeri banget. Ada yang beri predikat “Solpat”. I don’t know what it means. Dia bilang, “Selagi emak-emak caci maki si Solpat di ILC, gua kok malah nangis. Nangis seneng.” Gubraaak.

Fotonya di ILC diinjek kaki, ditutup sapu ijuk, ditempelin celana dalam dan sebagainya.

Saking terhinanya Abu Janda, ada fans Ahokernya balik badan. Gus Yaqut Cholil berkomentar menolak Abu Janda adalah Kader Ansor. Katanya cuma perna ikut pendidikan dasar.
Ada yang bikin sebuah GIF. Potret Abu Janda dipasang di sebelah kiri. Di kanannya, diulang-ulang adegan Kyai Said Aqil Sirod berkata, “Goblok, goblok, goblok, goblok”.

Meim-meim Abu Janda dikreasi. Ada foto Abu Botak ditempel micin. Seperti orang sakit kepala. Kreatif.

Usai ILC, Abu Janda coba ngeles. Nulis macem-macem. Selain Menteri Susi, kecaman juga keluar dari mantan anggota DPR-RI, Djoko Edhi Abdurahman. “Tak bisa diralat perilaku di depan tv dengan tulisan. Kalau keok di depan tv, ya keok aja. Jangan banyak omong,” katanya.

Alumni HMI Geisz Cholifah berkata, “Secara telak, Abu Janda dan Denny Siregar telah patah. Ahoker dua itu sudah habis. Sulit buat bangkit. Stempel ‘dungu’ di jidat mereka sudah melekat. Ngga bisa dicopot.”

Sadis-sadis cemo’ohnya. Abu Janda digambar galak di Medsos, cemen di dunia nyata. Hiu dan macan di internet tapi realitanya cuma cebong dan patung macan.

Kasian, uda pasang muka serem malah diketawain. Ngga ada yang takut.

THE END.