CLBK

Pukul 07.00 WIB.

"Mas..mas...geser sana, celana dalamku belum ketemu, nih."




Sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk, Wulan menepuk punggung Herry.

Namun Herry malas-malasan, ia menggulingkan tubuhnya sambil menarik selimut dan kembali tidur tengkurap.

Wulan mencari di bawah alas kasur yang sudah acak-acakan, di bawah bantal, akirnya berhasil ditemukan. Ternyata terselip di sisi atas kasur. Wulan segera memakai pakaiannya dengan terburu-buru.

Setelah selesai berdandan ala kadarnya, Wulan menepuk punggung Herry lagi.

"Mas, Aku duluan ya... Musti segera ke Bandara, Suamiku sampai di Bandara dengan pesawat pagi ini. Daag.., sayang!," lalu mengecup kening Herry yang masih terkantuk-kantuk.

"Oke, say..., daag.. Makasih ya. Hati-hati!," jawab Herry malas-malasan.

Wulan memacu mobilnya ke Bandara. Di pertigaan, Wulan terjebak macet dengan kendaraan dan motor para pelajar yang menuju ke sekolah. Wulan sedikit kesel berkali-kali membunyikan klaksonnya.

Huda, suami Wulan berkali-kali melihat jam tangannya. Sudah 15 menit dia menunggu di Bandara, tak seperti biasanya istrinya telat menjemput. Padahal malamnya sudah diberi tahu dia naik pesawat yang jam keberangkatan pertama pukul 06.00 WIB pagi.

Biasanya setengah jam sebelum sampai, istrinya sudah menunggu. Huda sudah kangen kali dengan istri tercintanya itu, maklum sudah dua minggu berpisah.

Akhirnya 10 menit kemudian Wulan sampai dan cipika-cipiki.

"Maaf ya pap, telat. Semalam lembur, kerjaan kantor banyak," sembari memasang muka memelas.

"Ya udah, nggak apa-apa. yuk, pulang," Huda mengacak-ngacak rambut Wulan, lalu merangkul bahunya.  Wulan merangkul pinggang suaminya mesra.

***

Tepat di depan Hotel Aston mobil mereka terpaksa berhenti karena macet. Ada keramaian yang tak biasa didepan hotel tersebut. Ada beberapa mobil polisi. Ambulan dan warga yang berbondong-bondong berkerumun di depan lobi hotel.

Tiba-tiba jantung Wulan bertak kencang.  Di hotel itulah dia dan Herry menginap tadi malam. Mau menelepon Herry menanyakan keadaannya dan apa yang terjadi, tapi takut ketahuan suaminya. Entah kenapa Wulan menjadi gelisah, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

"Ma, kenapa? Kamu demam?," tanya Huda yang melihat perubahan drastis wajah istrinya. Tangannya menyentuh dahi Wulan.

"Nggak apa-apa kok Mas, hanya menahan..., hmmm...., buang air besar saja," jawab Wulan pura-pura tersenyum malu-malu sambil berbisik. Huda tertawa ngakak.  Setelah lepas dari kemacetan, Huda memacu mobilnya mencari pom bensin.

"Tuh, BAB dulu sana di WC!," kata Huda sambil mengucek rambut istrinya. Wulan memasang tampang manyun bergegas turun dari mobil.

Di bilik WC, Wulan bergegas menghubungi nomer Herry.

"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif."

Wulan makin panik. Berkali-kali dia pencet nomor Herry. Dia coba hubungi lewat pesan Facebook (FB). Tak ada juga balasan. Tak sengaja dia membaca timeline di FB-nya.

"Hot News! Seorang pria bernama Herry Frianto (38), Direktur Bank Duta Mas Persada ditemukan tewas dikamarnya Hotel Aston, Jalan Gajahmada. Diduga korban pembunuhan teman kencannya!"

Wulan lemas. Matanya berkunang-kunang. HP di tangannya jatuh masuk ke lubang kakus WC. Wulan tergeletak di lantai WC.

***

Huda cemas. Dia mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan rumah sakit. Keluarganya sudah mulai berdatangan.

"Huda, kenapa dengan Wulan?," tanya mamanya Wulan.

Huda memeluk mertuanya; "Tenang dulu, Ma."

Dokter keluar dari ruang pemekrisaan.

"Bagaimana, istri saya dok?," tanya Huda. Dokter tersenyum.

"Nggak apa-apa? hanya kelelahan dan shock saja. Dan syukurlah kandungannya, nggak apa-apa" kata dokter tersebut.

Huda terkejut. Wulan hamil? Katanya dalam hati.

Mama Wulan yang mendengar itu juga terkejut; "Hudaa..., kok kamu diam saja? Kok mama tak dikasih tahu Wulan hamil. Udah berapa bulan? Duuh.., kalian ini ya? Mo kasih kejutan ntuk mama ya? Akhirnya.....! Mamanya segera masuk ke dalam kamar pemekrisaan Wulan, disusul tante dan keponakannya yang juga tersenyum-senyum.

Dokter tersebut terlihat bingung, "Ya sudah, saya duluan ya, pak."

Tinggal Huda yang terpana sendirian. Wulan hamil?

Huda dan Wulan sudah sepuluh tahun menikah, mereka belum dikaruniai satu anak pun. Huda galau. Pelan dia melangkah ke kamar pemeriksaan tersebut.

"Pa, maafkan mamaa..., Ampuunkan, mama...." Wulan histeris.
"Mama ngaku salah, sudah berkhianat pada, Papa!," Wulan mencium tangan Huda.

"Mama.., maafkan Wulan.., sudah bikin malu keluarga," Wulan histeris memeluk mamanya.

Akhirnya semua terungkap, yang sedang dikandung Wulan adalah benihnya Herry, bosnya di kantor.

Dan sekarang Herry sudah tewas. Tersangka utamanya adalah Wulan. Polisi berhasil mengetahui identitas Wulan dari ponsel Herry, rekaman CCTV di lobi hotel dan dari plat mobil yang mereka berdua gunakan sebelum kejadian.

Wulan diperiksa insentif oleh kepolisian. Wulan bersumpah dia bukan pembunuhnya. Bagaimana mungkin dia membunuh Herry, ayah dari anak yang sedang dikandungnya. Pada malam sebelum kejadian dia dan Herry masih sempat bermesraan, merencanakan masa depan berdua dan pagi saat ditinggalkan Herry dalam keadaan masih hidup dan sehat.

Dari temuan Polisi, Herry tewas karena keracunan. Dugaan polisi, Wulan sengaja menaruh racun di minuman Herry sebelum meninggalkan Herry pagi hari saat kejadian.

Istri Herry dan keluarganya menuntut hukuman mati terhadap Wulan.

***

Setelah melewati proses yang panjang. Pemeriksaan yang melelahkan. Akhirnya sidang perkara pembunuhan terhadap Herry mencapai kata putus.

"Dengan ini setelah memperhatikan barang bukti, hasil visum, pembelaan terdakwa dan hal-hal terkait lainnya, kami putuskan Terdakwa terbukti bersalah melakukan pembunuhan terencana terhadap saudara Herry. Kepadanya dijatuhi hukuman mati. Eksekusi akan dilakukan setelah anak yang dikandung terdakwa lahir."

Tiba-tiba saat palu akan diketok, seorang pria berteriak dari tengah hadirin yang menghadiri sidang.

"Pak Hakim, saya punya bukti baru! Ini HP terdakwa, HP inilah yang digunakan terdakwa untuk berhubungan dengan Herry. Ini kartu SIMnya silahkan bapak baca pesan Herry sebelum menghembuskan nafas terakhir!"

Setelah diteliti dan diperiksa tim ahli, akhirnya isi pesan tersebut bisa digunakan untuk melengkapi kasus pembunuhan tersebut. Hakim membaca pesan terakhir dari korban kepada terdakwa.

"Dik, maafkan aku. Aku tak bisa memenuhi janjiku untuk menceraikan istriku dan menikahimu setelah proses ceraimu dengan suamimu selesai. Aku tak ingin membuat banyak hati terluka. Aku tidak ingin istri dan anak-anakku terluka. Aku tidak mau mengkhianati suamimu Huda. Dia laki-laki baik. Biarlah semua kesalahan ini aku tanggung semuanya. Aku sayang kalian berdua, jaga anak kita. Love u..."

***

Wulan bebas. Huda akhirnya bisa menerima Wulan kembali dan bersedia menerima dan membesarkan anak Herry seperti anaknya sendiri.

Herry adalah mantan pacar Wulan. Mereka dipisahkan, karena Herry dijodohkan dengan wanita pilihan orangtuanya. sedang Huda adalah pria yang dipilihkan orangtua Wulan sepeninggal Herry.

Namun Wulan tak bisa mencintai Huda. 10 tahun berumahtangga Wulan hanya berpura-pura manis di depan Huda, sedang di hatinya yang ada hanya Herry. Akhirnya Herry datang kembali sebagai direktur baru di bank tempat Wulan bekerja setelah berpisah dan tak ada kabar setelah 10 tahun berlalu. Cinta lama bersemi kembali.

Tapi, tak selamanya CLBK itu indah.

*Cerpan Mustafa Kamal di laman Kompasiana; https://www.kompasiana.com/alchemist/5674391fad9273680b8e9e9d/clbk